TRAKTUS PIRAMIDALIS


PENDAHULUAN

ANATOMI

Traktus piramidalis, menurut Turek adalah traktus yang lewat di piramida medulla oblongata.

Bila kita berpegang teguh pada definisi tersebut, maka sununan ekstrapiramidal adalah semua susunan jaras-jaras dan nuclei yang terletak di luar susunan piramidal.

Filogenetik traktus piramidalis itu adalah suatu traktus yang baru. Bahkan Brouwer mengatakan bahwa traktus piramidalis itu adalah suatu tambahan filogenitik baru pada susunan saraf pusat. Traktus piramidalis hanya ditemukan pada mamalia.

Traktus piramidalis ini tidak didapatkan pada ikan, amfibia, reptilia atau pada burung. Hanya burung kakak tua memperlihatkan suatu traktus mulai di korteks serebri turun sampai di medulla spinalis. Ini diberi nama serabut-serabut kortiko-septo-mesensefalo-spinalis dari Kalisner. Ariens Kappers berpendapat bahwa serabut-serabut Kalisner ini adalah analogen avian dari traktus piramidalis pada mamalia.

Traktus piramidalis pada mamalia yang rendah tidaklah sama dengan traktus piramidalis mamalia yang filogenetiknya lebih tinggi tingkatnya. Pada rodentata misalnya kita lihat, bahwa traktus piramidalis sesudah dekusasio menjadi terletak di funukulus posterior.

Pada primata dan manusia, sebagian besar traktus piramidalis berada di funikulus lateralis. Hanya sebagian kecil traktus piramidalis itu berada di funikulus anterior.

Kita lihat, bahwa ada serabut-serabut yang telah menyilang di daerah pons dan kemudian ke jurusan kaudal bersama-sama dengan traktus spinalis nervi trigemini. Serabut-serabut ini, yang dinamai traktus dari Pick, kemudian di daerah servikal menjadi satu dengan traktus kortiko-spinalis lateralis.

Sewaktu-waktu terlihat bila berkas-berkas dari traktus piramidalis yang jalan bersama-sama dengan lemniskus medialis (“pedes lemnisci”). Pada dekusasio piramidorum sewaktu-waktu tampak traktus piramidalis yang menyilang secara menyeluruh, tetapi sebaliknya ada pula traktus piramidalis yang sama sekali tidak menyilang. Keganjilan-keganjilan ini akan dapat kita pahami, bila kita sadari, bahwa traktus piramidalis adalah suatu tambahan filogenetik baru, yang harus mencari jalannya sendiri diantara susunan-susunan ekstrapiramidal yang filogenetik adalah lebih tua.

Susunan filogenetik tua terdiri atas susunan-susunan neuron yang pendek, sedangkan susunan filogenetik muda terdiri atas neuron-neuron yang panjang, seperti kita lihat misalnya pada traktus kortiko-spinalis. Tetapi di dalam traktus piramidalis sendiri terdapat beberapa serabut yang bila dilakukan ablasi dari korteks serebri tidak memperlihatkan degenerasi sama sekali.

Serabut-serabut ini rupanya berasal dari neuron-neuron yang pendek. Traktus piramidalis itu selain memiliki suatu susunan yang benar-benar baru, saat perkembangannya telah pula merangkul beberapa serabut yang filogenetik tua ke dalamnya. Dengan demikian traktus piramidalis terdiri atas susunan piramidalis sejati dan beberapa serabut “ekstrapiramidal”. Terutama di kapsula interna terdapat cukup banyak serabut ekstrapiramidal yang jalan bersama-sama dengan traktus kortiko-spinalis. Keadaan ini mengakibatkan, bahwa suatu lesi di kapsula interna akan menimbulkan kerusakan pada susunan piramidalis dan ekstrapiramidalis. Lesi yang demikian akan memperlihatkan suatu sindrom “upper motor neuron”. (1,2,3)

Susunan kortikofugal terdiri dari bagian frontofugal, sentrofugal, dan bagian temporofugal.

Di dalam bagian frontofugal, di samping serabut-serabut frontopontinus, ditemukan pula serabut-serabut frontospinalis. Di dalam bagian sentrofugal terletak serabut-serabut sentropontinus dan serabut-serabut sentrospinalis.

Serabut-serabut frontospinalis dan serabut-serabut sentrospinalis bersama-sama membentuk traktus piramidalis. Tetapi traktus piramidalis ini selain mengandung serabut-serabut kortikospinalis seperti diuraikan di atas, mengandung pula beberapa serabut-serabut halus yang berasal pada inti-inti subkortikal.

Di medulla oblongata, traktus piramidalis menjadi menjadi suatu lintasan yang kompak dan lewat di piramis (oleh karena itu traktus ini dinamakan traktus piramidalis). Di perbatasan antara medulla oblongata dan medulla spinalis, sebagian besar (85%) dari traktus piramidalis menyilang ke sisi yang lain, dan menduduki suatu daerah di funukulus lateralis. Traktus ini dinamakan traktus piramidalis lateralis. Serabut-serabut kortikospinalis yang tidak menyilang melanjutkan perjalanannya di bagian medial dari funukulus ventralis. Traktus ini dinamakan traktus piramidalis ventralis. Tempat penyilangan dari serabut-serabut piramidalis itu disebut dekusasio piramidorum(1)

PATOLOGI
Manifestasi akibat lesi pada sistema piramidalis dapat berupa kelumpuhan berat, sedang dan ringan, atau konvulsi. Yang pertama adalah manifestasi insufisiensi atau defisiensi kegiatan sistema dan yang kedua merupakan manifestasi perangsangan terhadap sistema piramidalis. Kelumpuhan yang ringan (paresis ringan) berarti, bahwa kekuatan tenaga otot berkurang sehingga mengganggu segi ketangkasan gerak otot. Pada konvulsi, gerak otot muncul secara serangan tanpa dikehendaki. (3,4)

Konvulsi yang diakibatkan oleh lesi di sistema piramidalis berbeda dengan konvulsi pada epilepsy. Pada epilepsy umumnya tidak hanya neuron-neuron piramidalis saja yang terangsang secara menyeluruh, tetapi sebenarnya semua neuron yang berada di korteks serebri.

Faktor yang menentukan manifestasi perangsangan, karena apa yang satu menimbulkan konvulsi dan yang lain automatismus, adalah intensitas dan cara gaya sarafi merangsang korteks piramidalis. Intensitas yang tinggi dan gaya yang serentak merangsang korteks piramidalis membangkitkan konvulsi. Sedangkan intensitas gaya sarafi yang sedang dan cara perangsangan dengan sumasi temporal akan membangkitkan automatismus. (2,3,4)

Kelumpuhan akibat lesi pada sistema piramidalis mempunyai berbagai macam corak yang ditentukan oleh lokalisasi dan sifat lesi. Namun demikian, semua kelumpuhan tersebut diiringi oleh tanda-tanda khas yang dikenal sebagai tanda-tanda “upper motoneuron” (UMN).

Tanda-tanda kelumpuhan UMN adalah: (1) tonus otot meninggi, (2) hiperrefleksi, (3) klonus, (4) refleks patologis, (5) tidak ada atrofi pada otot-otot yang lumpuh, (6) refleks automayismus spinalis.

Semua jenis kelumpuhan yang timbul akibat kerusakan korteks piramidalis dan jaras kortiko-spinalis, menunjukkan tanda-tanda kelumpuhan UMN. Tergantung pada gejala motorik tambahan atau gejala sensorik pengantar, maka terdapatlah gambaran penyakit kelumpuhan yang dapat dikorelasikan dengan lokasi suatu lesi.

Jenis atau sifat lesi yang dapat menimbulkan kelumpuhan piramidalis adalah: (1) lesi vaskuler, (2) lesi akibat proses desak ruang, (3) perdarahan, (4) infeksi, (5) degenerasi, (6) trauma atau lesi mekanik.

Berdasarkan tempat lesi, maka kelumpuhan piramidalis terdiri atas: (1) kelumpuahan akibat lesi di korteks piramidalis, (2) kelumpuhan akibat lesi di kapsula interna, (3) kelumpuahn akibat lesi di batang otak, (4) kelumpuhan UMN pada lesi di medulla spinalis. (2,3)

DAFTAR RUJUKAN

  1. Prof. Dr. I. Gusti Ng. Gd. Ngoerah. Nervi Kranialis. Dalam: Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Saraf. Penerbit Universitas Airlangga. Surabaya. 1990: 1 – 4.
  2. Http://www.yahoo.net/seach/cache?/neuro24.de/hirntraktus_piramidalis.htm
  3. Http://www.yahoo.net/search/cache?/angelfire.com/nc/neurosurgery/Topik.html.
  4. Mardjono M, Sidharta P. Sarafotak dan Patologinya. Dalam: Neurologi Klinis Dasar. Penerbit PT. Dian Rakyat. Jakarta. 2000: 19 – 40.
About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s