IDENTIFIKASI TULANG


  1. PENDAHULUAN

Identifikasi adalah usaha pengenalan terhadap seseorang baik masih hidup dan utuh maupun telah meninggal dan tinggal sisa jaringan.

Data-data yang dapat diperoleh dari identifikasi antara lain

-          jenis kelamin

-          bangsa

-          umur

-          perawakan

-          warna kulit

-          rambut

-          sidik jari dan telapak kaki

-          tanda-tanda tatoo

-          keadaan gizi

-          dan lain-lain

Identifikasi ini dapat dilakukan dari:

-          Karakteristik morfologi korban, meliputi: tinggi badan, berat badan, rambut, warna kulit, pakaian, perhiasan, tatoo, dll..

-         Sidik jari korban

-         Gigi korban

-         Tulang-tulang

Dalam makalah ini kami akan secara khusus membahas identifikasi pada tulang.PEMBAHASAN

Pada saat petugas kepolisian membawa tulang untuk dilakukan pemeriksaan medis, hal-hal yang biasanya dipertanyakan pihak kepolisian kepada petugas medis antara lain:

  1. Apakah tulang tersebut adalah tulang manusia atau bukan.
  2. Jika ternyata tulang manusia, tulang dari laki-laki atau wanita.
  3. Apakah tulang-tulang tersebut merupakan tulang dari satu individu atau beberapa individu.
  4. Umur dari pemilik tulang tersebut.
  5. Waktu kematian.
  6. Apakah tulang-tulang tersebut dipotong, dibakar atau digigit oleh binatang.
  7. Kemungkinan penyebab kematian.

1) Untuk membedakan tulang manusia dan tulang hewan

Hal ini merupakan tugas dokter karena pihak kepolisian dan rakyat biasa sering acuh, sehingga pernah terjadi kekeliruan dengan tulang binatang, terutama dengan tulang-tulang anjing, babi dan kambing. Pengetahuan mengenai anatomi manusia, berperan penting untuk membedakannya. Jika tulang yang dikirim utuh atau terdapat tulang skeletal akan sangat mudah untuk membedakannya,  tetapi akan menjadi sangat sulit bila hanya fragmen kecil yang dikirim tanpa adanya penampakan yang khas.

Tes precipitin yang dikonduksi dengan serum anti-human dan ekstrak dari fragmen juga dapat dipergunakan untuk mengetahui apakah tulang tersebut tulang manusia. Tulang manusia dan binatang juga dapat dibedakan melalui analisa kimia debu tulang.

2) Untuk menentukan jenis kelamin

Sebelum masa dewasa, jenis kelamin tidak dapat ditentukan hanya dengan tulang-tulang saja. Baru setelah masa puber hal-hal berikut dapat dipakai sebagai pegangan:

-          Panggul. Panggul pada wanita lebih lebar, khususnya tulang kemaluan (os pubis) dan tulang usus (os oschii); sudut pada incisura ischiadica major lebih terbuka, foramen orburatum mendekati bentuk segitiga. Sangat diagnostik adalah Arc compose. Pada pria lengkung yang yag terbentuk oleh pinggir kranial ventral facies auricularis, kl. Dapat dilanjutkan pada pinggir kranial dan ventral incisura ischiadica major; pada wanita terbentuk dua lengkung terpisah. Di samping itu  pada wanita terdapat lengkung pada bagian ventral tulang kemaluan, yang tidak kentara pada pria; pada wanita bagian subpubica dari rasmus ischio-pubicus cekung, pada pria tulang ini cembung; dilihat dari sisi ventral , pada wanita bagian yang sama agak tajam, pada pria lebih membulat.

Tabel. Identifikasi jenis kelamin dari tulang panggul menurut acsadi & Nemeskeri(1970) dan Ferembach (1979) bdk. Martin-Knussmann (1988)

Ciri Bobot

W

Hyperfeminin

-2

Feminin

-1

Netral

0

Maskulin

+1

Hipermaskulin

+2

Sulcus

Praeauricularis

Incisura ischiadica mayor

Angulus suppubicus

Os Coxae

Arc Compose

Foramen obturatorium

Corpus ossis

Ischii

Crista illiaca

Fossa illiaca

Pelvis major

Pelvis minor

3

3

2

2

2

2

2

1

1

1

1

Mendalam,

Batasnya jelas

Sangat terbuka bentuk V

>100

Rendah,lebar,sayap luas,relief otot kurang jelas

Dua lengkung

Segi tiga sudut runcing

Sangat sempit,tuber ischiadicus kurang jelas

Bentuk S-nya sangat dangkal

Sangat rendah dan lebar

Sangat lebar

Sangat lebar oval

Lebih dangkal,

tapi jelas

Terbuka bentuk V

90-100

Ciri feminin kurang jelas

Dua lengkung

Segi tiga

Sempit

Bentuk S-nya dangkal

Rendah dan lebar

Lebar

Lebar, oval

Hanya bekas

Bentuk peralihan

60-100

Bentuk peralihan

Dua lengkung

Bentuk tidak jelas

Sedang

Sedang

Tinggi dan lebarnya sedang

Sedang

Lebarnya sedang, bulat

Hampir tak kentara

Bentuk U

45-60

Ciri maskulin kurang jelas

Satu lengkung

Oval

Lebar

Jelas berbentuk S

Tinggi dan sempit

Sempit

Sempit berbentuk harten

Tidak ada

Sempit,jelas bentuk U

<45

Tinggi,sempit,relief otot sangat kentara

Satu lengkung

Oval dengan sudut

Bulat

Sangat lebar dengan tuber ischidikus sangat kuat

Sangat jelas berbentuk S

Sangat tinggi dan sempit

Sangat sempit

Sangt sempit berbentuk harten

-          Tulang tengkorak. Besarnya tengkorak adalah salah satu ciri dimorfis seksual. Tengkorak pria lebih besar, lebih berat dan tulangnya lebih tebal. Seluruh rellef tengkorak (benjolan,tonjolan dsb.) lebih jelas pada pria.

Tulang dahi dipandang dari norma lateralis kelihatan lebih miring pada pria, pada wanita hampir tegal lurus; benjolan dahi (tubera frontalla) lebih kentara pada wanita, pada pria agak menghilang. Arci supercilliaris lebih kuat pada laki-laki; sering hampir tidak kentara pada wanita; pinggir lekuk mata (orbita) agak tajam/tipis pada wanita dan tumpul/tebal pada pria. Bentuk orbita pada pria lebih bersegi empat (menyerupai layar TV dengan sudut tumpul), pada wanita lebih oval membulat.

Pada tulang pelipis tahu mastoid (prossesus mastoideus) besar dan takiknya (incisura mastoidea) lebih mendalam pada pria.

Tabel Identifikasi jenis kelamin dari tengkorak kepala

No Yang membedakan Laki – laki Perempuan
1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

Ukuran

Glabella

Daerah supra orbita

Processus mastoideus

Protuberantia occipitalis

Arcus zigomaticus

Dahi

Eminentia frontalis

Orbita

Nasion

Malar prominence

Lobang hidung

Eminentia parietalis

Condilus occipitalis

Condylar facet

Foramina

Palatum

Digastric groove

Sinus frontalis

Gigi

Permukaan tulang

Kapasitas intra kra nial lebih besar 10 % dari perempuan

Kurang menonjol

Lebih menonjol

Lebih menonjol

Lebih menonjol

Lebih menonjol

Curam,agak datar

Lebih menonjol

Letak lebih rendah, relativ lebih kecil, batas agak bulat dan berbentuk seperti persegi empat

Angulasi jelas

Lebih lengkung

Lebih tinggi dan sempit

Kurang

Besar

Panjang dan sempit

Lebih besar

Lebih besar dan berbentuk seperti huruf “U”

Dalam

Lebih berkembang

Lebih besar

Permukaan seluruhnya kasar dengan tempat perlekatan otot yang lebih menonjol

Kapasitas intra kra nial lebih kecil 10% dari laki – laki

Lebih menonjol

Kurang menonjol

Kurang menonjol

Kurang menonjol

Kurang tegas

Bulat/bundar

Kurang menonjol

Lebih tinggi, relativ lebih besar, batas tajam dan berbentuk bulat

Angulasi kurang menonjol

Lebih datar

Lebih rendah dan luas

Lebih

Kecil

Pendek dan luas

Lebih kecil

Lebih kecil dan parabolik

Dangkal

Kurang berkembang

Lebih kecil

Seluruhnya halus dengan tempat perlengketan otot yang kurang menonjol

-          Mandibula. Sudut yang terbentuk  oleh rasmus dan corpus mandibulae lebih kecil pada pria (mendekati 90º). Benjol dagu (protuberia mentalis) lebih jelas/besar pada pria. Processus coronoideus lebih besar/panjang pada pria.

Tabel Identifikasi jenis kelamin dari mandibula

No Yang membedakan Laki – laki Perempuan
1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

Ukuran

Sudut anatomis

Dagu

Bentuk tulang

Mental tubercle

Myelohyoid line

Tinggi pada simphisis mentii

Ramus ascending

Condylar facet

Berat dan permukaan

Gigi

Lebih besar

Everted

Berbentuk persegi empat

Berbentuk seperti huruf “V” Besar dan menonjol

Menonjol dan dalam

Lebih

Lebih lebar

Lebih besar

Lebih berat,permukaannya kasar dengan tempat perlengketan otot yang menonjol

Lebih besar

Lebih kecil

Inverted

Agak bulat

Berbentuk seperti huruf “U”

Tidak signifikan

Kurang menonjol dan dangkal

Kurang

Lebih sempit

Lebih kecil

Lebih ringan dengan permukaan yang halus

Lebih kecil

Tabel Identifikasi jenis kelamin dari tulang femur

No Yang membedakan Laki – laki Perempuan
1

2

3

4

5

6

7

8

Caput

Collum dan corpus

Kecenderungan corpus bagian bawah ke arah dalam

Diameter vertikal caput

Panjang oblik trochanter

Garis popliteal

Lebar bicondylar

Ciri – ciri umum

Permukaan persendian Lebih dari 2/3 dari bulatan

Membentuk sudut lancip

Kurang

Sekitar 4 – 5 cm

Sekitar 45 cm

Sekitar 14 cm

Sekitar 7 – 5 cm

Berat,permukaan kasar dengan tempat perlekatan otot yang menonjol

Permukaan persendian kurang dari 2/3 dari bulatan

Membentuk sudut tumpul

Lebih

Sekitar 4.15 cm

Sekitar39 cm

Sekitar 10 cm

Sekitar 7 cm

Ringan dengan permukaan yang halus

3) Menentukan tulang dari satu individu atau beberapa individu

Tulang-tulang yang dikirim untuk dilakukan pemeriksaan harus dipisahkan berdasarkan sisi asalnya, dan selanjutnya dilakukan pencatatan jika terdapat tulang yang berlebih dari yang sebenarnya , atau terdapat jenis tulang yang sama dari sisi yang sama.

4) Menentukan usia dari pemilik tulang tersebut

Pada pemeriksaan rahang bawah, bisa dibedakan rahang bayi, dewasa dan orang tua. Rahang bayi corpusnya dangkal dan rasmusnya sangat pendek dan membentuk sudut 140º dengan corpus dari rahan tersebut. Pada rahang dewasa corpus menjadi tebal dan panjang dan susut antara rasmus dan corpus mengarah 90º. Pada orang tua batas dari prosessus alveolarismulai hilang dan corpus akan menjadi tumpul. Pada anak kecil foramen mentalis terletak pada pinggir bawahnya. Prossesus condyloideus hampir segaris dengan corpus dan prosesus coronoideus project di atas condylus. Pada orang dewasa foramen mentalis terletak di pertengahan batas atas dan bawah dari corpus condylus panjang dan menonjol di atas prosessus coronoideus. Pada usia tua foramen mentalis terletak dekat batas alveolus.

Pada pertemuan dari tulang rawan pada ephypisis dengan diaphysis pada wanita lebih dahulu terjadi dari laki-laki. Sedangkan sutura pada cranium hilang lebih dahulu pada laki-laki. Pada umur 18 tahun ephypisis dari phalanx, metacarpal dan ujung bawah dari ulna dan radius mulai menutupi pusat penulangan. Pada umur 19 tahun bagian tersebut sudah tertutup rapat. Pada daerah tropis, pusat penulangan dan pertemuan  (persatuan) dari ephypisis pada tulang panjang lebih cepat 2 tahun pada laki-laki, sedangkan pada weanita 3 tahun lebih dahulu

5) Menentukan waktu kematian

Sangatlah susah untuk memperkirakan waktu kematian dari pemeriksaan tulang, meskipun begitu dugaan-dugaan dapat dibuat dengan memperhatikan adanya fraktur, aroma, dan kondisi jaringan lunak dan ligamen yang melekat dengan pada tulang tersebut. Pada kasus-kasus fraktur, perkiraan waktu kematian dapat diperkirakan dalam berbagai tingkatan ketepatan, dengan pemeriksaan callus setelah dibedah sebelumnya secara longutidunal. Aroma yang dikeluarkan tulang pada beberapa kematian sangat khas dan menyengat. Harus diingat bahwa anjing, serigala dan pemakan daging lainnya akan menggunduli tulang tanpa sedikit pun jaringan lunak dan ligamen, meskipun dalam waktu yang sangat singkat, tetapi aroma yang ditinggalkanya masih merupakan bukti dan tetap berbeda dari tulang yang telah mengalami penguraian di tanah.

Setelah semua jaringan lunak menghilang, tulang-tulang mulai mengalami penguraian selama tiga sampai sepuluh tahun, yang biasanya terjadi dalam peti mati. Perubahan yang terjadi pada tulang diikuti  dengan berkurangnya berat dan bahan organik, seperti tulang menjadi lebih gelap atau kecoklatan atau menjadi rapuh. Akan menjadi sangat susah untuk memperkirakan jika perubahan warba terjadi, tetapi itu tergantung kepada kemurnian tanah, model penguburan (dengan atau tanpa peti mati), dan usia dari orang tersebut (lebih cepat pada usia muda).

6) Melihat apakah tulang tersebut dipotong, dibakar, atau digigit binatang

Tulang, bagian ujung ujung dari tulang, harus diperiksa dengan sangat teliti untuk mengetahui apakah tulang-tulang tersebut dipotong dengan benda tajam, atau digerogoti binatang, atau medulanya telah dimakan. Terkadang petugas kepolisian yang kurang berpengalaman salah mengira tulang yang digerogoti binatang dan mengiranya dipotong dengan benda tajam, lalu berusaha menerangkannya dengan berbagai teori yang tidak jelas. Saluran-saluran nutrisi juga harus diperiksa untuk melihat ada atau tidaknya arsenic merah atau zat pewarna lainnya untuk mengetahui dengan pasti apakah tulang tersebut berasal dari ruang pemotongan.

7) Menentukan kemungkinan penyebab kematian

Hampir tidak mungkin untuk menentukan penyebab kematian dari tulang, kecuali jika didapati fraktur atau cedera, seperti fraktur pada tulang tengkorak atau pada cervikal atas atau potongan yang dalam pada tulang yang mengarahkan  kepada penggunaan alat pemotong yang kuat.  Penyakit-penyakit pada tulang, seperti karies atau nekrosis, atau bekas cedera bakar.

Racun-racun metalik seperti arsenik, antimoni atau merkuri dapat dideteksi melalui analisa kimia meskipun lama setelah kematian.

PENUTUP

Oleh karena tulang-tulang, teristimewa gigi-geligi tahan  terhadap pembusukan maka biasanya hanya bagian-bagian itulah yang dapat ditemukan kembali dalam waktu cukup lama. Maka dari itu tulang dan gigi merupakan sumber informasi yang penting dalam Kedokteran Kehakiman dan mempunyai aspek medikolegal yang amat besar.

Untuk mempelajari dan menginterpretasi dengan tepat tulang-tulang diperlukan banyak pengalaman serta pengetahuan yang luas tentang variasi-variasi, aspek-aspek perbandingan dan prosedur teknik. Meskipun demikian kekeliruan dalam identifikasi tulang masih sering terjadi.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Bernard Knight CBE. Simpson’s Forensic Medicine. 11th ed. New York: Arnold Publishers, 1997.
  2. DR. dr. Ardiyan Boer, Sm.HK. Osteologi Umum. 10th ed. Padang: Percetakan Angkasa Raya.
  3. S. Keiser Nielsen. Person Identification by Means of the Teeth. Bristol: John Wright & Sons Ltd, 1980.
  4. C.A. Franklin, MD. Modi’s Textbook Medical Jurisprudence and Toxicology. 21st ed. Bombay: N.M. Tripathi Private Limited, 1988.
  5. Apurba Nandy, MD. Principles of Forensic Medicine. 1st ed. Calcutta: New Central Book Agency (P) Ltd., 1996.
  6. Josef Glinka SVD. Antopometri & Antroskopi.3rd ed. Surabaya: 1990.
  7. Dr. Amri Amir, DSF. Kapita Selekta Kedokteran Forensik. 1st ed. Medan: USU Press, 2000.
About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s