REAKSI INFEKSI


A. Sepsis
Kuman penyebab tersering adalah gram (-) seperti :
- E. Coli - Pseudomonas
- Klebsiella - Haemofillus influensa
- Enterobacter

Gram (+) seperti :
- Streptococcus aureus
- Streptococcus pneumonia
- Kuman anaerob

Sepsis merupakan penyebab tersering terjadinya DIC ( perdarahan menyeluruh ) dan DIM. Ini terjadi karena endotoxin merusak endotel kapiler mengaktifkan faktor “ Hagemen “. Sehingga terjadi proses pembekuan & melambatkan aliran darah dan selanjutnya terjadi septik shock

Gejala Klinis :
- Demam ( pada bayi Ø  Hipotemi )
- Menggigil
- Muntah-muntah
- Kesadaran menurun
- Timbul petekie ( perdarahan bawah kulit  ada DIC ) & purpura
- Sepsis yang terjadi karena sumber infeksi kulit disebabkan oleh streptococcus aureus
Stadium Awal Sepsis :
- Kulit hangat
- Terlihat flushing / kemerahan kulit
- Hiperventilasi
- Takikardi
- Abdomen cembung & mungkin peritonitis
- Peritonitis akibat abses abdominal sebagai sumber infeksi karena infeksi oleh bakteri gram (-) sangat banyak dilambung

Stadium Lanjut Sepsis :
- Kulit dingin
- Nadi lemah
- Takikardi
- Hipotensi
- Oligouri
- Cyanosis

Therapi :
- Berantas infeksi
- Therapi suportif. Contoh : Anti piretik, anti kejang

B. Varisela ( Cacar Air )
Definisi :
Penyakit acute menular yang ditandai oleh vesicel dikulit dan selaput lendir

Penyebab : Virus Varisella

Etiologi :
Virus varisela zoster dan dapat menyebabkan juga herpes zoster

Epidemiologi
Penderita dapat menularkan penyakit selama 24 jam sebelum timbul kelainan kulit ( prodormal ) sampai 1 minggu kemudian baik campak ataupun zoster

Gejala Klinis :
1. Stadium prodormal ( 24 jam sebelum kelainan kulit ) :
panas lemah, lelah, lesu, anorexia

2. Stadium Erupsi :
- Papula merah kecil berubah menjadi vesikel, tidak ada cekungan / umbilicated ( jika sembuh, bersih, tidak ada bekal )
- 24 jam berubah menjadi keruh

Komplikasi : Pneumonia, Encephalitis

C. Morbili ( Campak )
Penyakit virus akut menular, ditandai 3 stadium
1. Stadium Katanal
2. Stadium erupsi
3. Stadium Convalecens / penyembuhan

Etiologi
Virus morbili yang terdapat dalam secret nasopharyng dan darah sehingga masa prodormal dan 24 jam setelah timbul bercak

Cara penularan :
- Melalui droplet infection ( udara )
- Melalui pegangan ( kontak )

Epidemiologi
- Timbul pada mata anak lebih dari 6 bulan, karena ada antibodi pasif dari ibu, menyebabkan kekebalan seumur hidup
- Jika anak pernah kena morbili  Bisa terkena lagi walaupun ada kekebalan karena kekebalannya kuat / tidak. Kekebalan  Timbul antibodi
- Bayi dari ibu yang pernah menderita morbili mendapat kekebalan umur 6 bulan, kemudian menurun
- Bila ibu belum pernah, bayi yang dilahirkan tidak mendapat kekebalan
- Imunisasi campak 9 bulan

Gejala Klinik :
Masa Tunas 10 – 20 hari, dibagi 3
1. Stadium Katanal ( 4 – 5 hari )
- Panas - Pilek
- Konjunctivitis - Malaise
- Fotophobia
24 jam sebelum timbul exanthema ( mulai timbul merah ). Timbul bercak komplik yang patognomomik yang khas tapi sering dijumpai

2. Stadium erupsi
- Coryza dan batuk berdarah
- Timbul exanthema dipalatum dan bercak komplik
- Pembesaran limfe di mandibula dan belakang telinga

3. Stadium Konvalesensi
- Hiperpigmentasi dan kulit bersisik ( patognomonia )
- Hipersalivasi
D/D : - Germany Measles ( campak jerman )
- Eksantem Subgitum

Komplikasi :
- OMA ( Otitis Media Akut )
- Encephalitis
- Branchopneumonia

D. Parotitis Epidemica / Mumps / Gondong
Penyakit akut menular dengan gejala pembesaran kelainan ludah / parotitis epidemika

Etiologi : Virus
Epidemiologi : Penyebaran terjadi secara kontak langsung ( percikan ludah dan muntah )

Gejala Klinik :
- Masa tumor 2 -3 minggu
- Prodormal 1 – 2 hari
- Timbul pembengkakan kelenajar parotis 3 hari

Komplikasi
- Meningoencephalitis
- Orchitis ( paling banyak )
- Pancreatitis

Therapi :
Kortikosteroid  Untuk mencegah orchitis

E. Demam Berdarah
- Merupakan manifestasi klinik daripada organo virus yang disebabkan oleh nyamuk aedes aegepty
- Dengan gejala-gejala :
1. Demam akut
2. Perdarahan
3. Kelainan hematologi dan dapat menjadi shock

Gejala Klinik :
- Demam tinggi mendadak terus menerus 2 – 7 hari
- Petechie, echimosis
- Epistaksis
- Nadi lemah
- Tekanan nadi < 20 mmHg
- Tekanan darah < 80 mmHg
- Kulit dingin, lembab
- Anak gelisah
- Cyanosis
- Shock

Laboratorium
- Thrombositopenia  ( WHO  14 mg %
- Ditemukannya 2 klinik (+) : Thrombositopenia & Hemokonsentrasi cukup untuk diagnosa demam berdarah

Derajat berat penyakit menurut WHO ( 1975 )
Grade I :
- Demam ditambah uji Torniquet RL (+)
- Uji Torniquet : Tekanan D & S dibagi 2, ditensi sesuai hasil, selama 5 menit, bila timbul petechi 20/lebih  (+)
Grade II
Perdarahan spontan
Grade III
Kegagalan supuratif :
- Nadi cepat, kecil
- Kulit dingin dan lembab
- Anak gelisah
- Tekanan nadi turun
Grade IV
Renjatan berat :
- Nadi tidak teraba
- Tensi tidak terukur
Grade III & IV menyebabkan : DENGUE SHOCK SYNDROM ( DSS ) “

Pathogenesis
Terjadinya ini menurut faham :
Security Heterologist Infection
Ab Respon
Virus Ab Complex

Komplemen aktivation Anafilaxion

Akibatnya permeabilitas kapiler ↑

Plasma keluar

Hipovolemi karena pekat

Shock akibat acidosis / anoxia  Meninggal

Pengelolaan :
- Menggantikan Plasma yang hilang
- Ab profolaksis

F. Pertusis / Batuk rejan / Whooping Cought
Etiologi :
Borderella pertusis

Patogenesis :
Lesi pada bronchus & Bronchiolus

Gejala Klinis :
Masa tunas 7 – 14 hari, terbagi 3 stadium :
1. Stadium Kathaval ( = Morbili )
2. Stadium Spasmodik :
- Batuk hebat
- Anak gelisah
- Cyanosis
- Batuk panjang dan lama. Tidak ada inspirium diantaranya diakhiri dengan hook
3. Stadium Kompalesen

Komplikasi :
- OMA - Kejang
- DRPN - Perdarahan

G. Difteri
Adalah suatu penyakkit infeksi akut yang disebabkan oleh corynebacterium diphteri yang menyerang tractus respiratorius bagian atas.

Basil dapat membentuk :
1. Gejala Umum :
- Demam tidak tinggi
- Lesu, pucat
- Nyeri kepala
- Anorexia

2. Gejala Lokal :
Pilek, Nyeri telan, serak, Striodin Ekspiratorium, sesak nafas

3. Akibat Eksotoxin :
- Myocarditis
- Paralisis jaringan syaraf

Komplikasi :
- Pada sluran nafas terjadi obstruksi jalan nafas
- Myocarditis
- Nephritis
- Paralisis

Therapi :
- ADS 20.000 unit/hr
- Ab
- Drugs of choice  PP 20.000 / kgBB/hr

Difteri berat ditandai adanya : Pembengkakan kelainan mandibula ( Seperti leher sapi / Bull neck )
 Beri kortikosteroid ( Prednison )
Komplikasi Bull Neck  Myocarditis

Derajat Dyspnoe Menurut “ Jackson “
 Stadium I
- Cekungan ringan, suprasternal
- Os masih ringan, hanya ada cekungan saja
 Stadium II
- Cekungan suprasternal menjadi lebih dalam + cekungan epigastrium
- Os masih gelisah
 Stadium III
- Cekungan suprasternal epigastrium & Intercostal
- Os sangat gelisah dan sukar bernafas
 Stadium IV
- Gejala bertambah berat, Os sangat gelisah & berusaha keras bernafas
- Os nampak ketakutan, pucat, cyanosis.

Stadium 2 & 3  Sudah merupakan indikasi tracheotomi.
Dyspnoe ini terjadi karena obstruksi aliran nafas yang disebabkan oleh membran kongestif & edema

H. Febris Thypoid
 Thypus
Adalah penyakit infeksi acut yang mengenai saluran pencernaan.
Gejala demam > 1 mgg. Gangguan saluran pencernaan & Gangguan kesadaran

 Etiologi
Salmonella Thyposa dan basil gram (-)

 Patogenesis
Basil diserap usus halus melalui pembuluh limfe dan masuk kedalan peredaran darah sampai ke hati dan limfa. Kemudian berkembang biak sehingga hati dan limfa membesar karena nyeri, kemudian basil masuk lagi ke dalam darah, disebut Bacteremia ke-2 kalo menyebar ke seluruh tubuh. Masuk lagi kedalam kelenjar limfoid usus halus dan menimbulkan lika pada mukosa usus halus

 Gejala Klinis : Masa tunas 10 – 20 hr = morbili
1. Demam berlangsung ± 3 mgg
Mgg I : Berangsur-angsur ↑, pagi ↓, sore ↑
Mgg II : Demam terus menerus
Mgg III : Berangsur’ turun dan normal pada
akhir mgg ke – 3

2. Gangguan saluran Pencernaan
- Bibir pecah
- Thypoid tangue  Lidah kotor + Hiperemis
- Metedrismus
- Hepatosplenomegali

3. Gangguan Kesadaran

 Komplikasi
1. Pada usus bisa terjadi perdarahan, perforasi, peritonitis
2. Diluar usus yang diakibatkan oleh bacteriemi ke-2  meningitis & Cholecystisis
3. Broncho Pneumonia

 Pemeriksaan
a. Darah tepi
Leukopeni, Limfositosis, eosinofil
b. Biakan empedu
Minggu I :
Basil ditemukan pada darah penderita setelah minggu i lebih sering ditemukan pada urin & tinja.
Pereaksi urin & tinja ntuk menentukan bahwa penderita benar-benar sudah sembuh / belum
c. Pereaksi Widal
Untuk diagnosa titer zat anti terhadap Ab dibawah 1/200 dianggap (+) akan menaikkan titer 4x dalam 1 mgg

 Therapi :
- Isolasi
- Istirahat selama demam
- Diet tidak makan dengan serat, tidak menaikkan asam lambung & tidak mengandung gas
- Chloramfenikol 50 mg/kg/hr

 Komplikasi
Apabila leukosit dibawah 3000 & Hb dibawah 8 mg %

I. Tetanus
Etiologi :
Clostridium Tetani yang hidup anaerob tersebar ditanah & mengeluarkan toxin dalam keadaan baik oleh kuman

Toxin Dapat Menyebabkan :
1. RBC & Leukosit hancur  Tetanomycin
2. Menyebabkan ketegangan & spasme otot  Tetaospamin

Patogenesis :
- Tumbuh luka pada yang anaerob  Tidak semua dikenai ATS  Hanya yang dalam & luas sperti luka bakar
- Pada OMA
Gejala Klinis :
- Masa inkubasi 5 – 14 hari
- Mula – mula terjadi ketegangan otot yang makin bertambah, terutama pada rahang dan leher
- Khas berjalan seperti robot
- Dalam 48 jam ( 2 hr ). Gejala jelas :
1. Trismus spasme otot masseter
2. Kaku kuduk sampai dengan epistotonus
3. Ketegangan otot-otot perut
4. Kejang tonik, seperti tari kecak, akibat toxin yang ada di cornu anterior
5. Risus sardonikus ( Otot-otot muka tertarik )
6. Sukar menelan
7. Spasme yang khas , badan kaku, ekstremitas inferior ekstensi, lengan kaku, dan tangan mengepal kuat
8. Aspiksia & cyanosis, karena spasme otot pernafasan
9. Panas tidak naik

Menurut beratnya gejala dibagi 3 stadium :
1. Stadium I : Trismus 3cm, tanpa kejang
2. Stadium II : Trismus 3cm dgn kejang bila
dirangsang
3. Stadium III : Trismus 1 cm, dengan kejang
spontan

Komplikasi :
- Spasme otot pharink yang menimbulkan aspirasi pneumonia
- Aspiksia
- Atelektasis
- Fraktur kompresi

Therapi :
- ATS 20.000 u/kg BB/hr selama 2 hari
- Antikoagulan
- Bila kejang tidak sering, luminal 3 – 5 mg/kg/hr
- Drugs of Choice : Penicyllin Prokain ( PP ) 50.000 u/kg/hr
- Oksigen
- Perawatan luka
- Ag : TT. DPT

J. Amoebiasis
Etiologi :
Entamoeba Hystolitika ( Patogen ). Entamoeba Ginggivalis, Endolimex nana ( tidak patogen )

Bentuk Entamoeba hystolitika dibagi 5 macam :
1. Bentuk Minuta
- Bentuk G dari fase vegetatif
- Hidup normal dalam usus
2. Bentuk Prekistik
Bentuk ini hilang, amoebanya sampai di rektum
3. Bentuk Kistik
Keluar bersama tinja
4. Bentuk Metakistik
5. Bentuk Hystolitika
Merupakan bentuk yang patologis yang mempunyai Pseudopodia . Menyebabkan gejala klinis

Cara Infeksi :
Bentuk kista keluar bersama tinja. Than panas dan tahan lama diluar tubuh. Bila termakan masuk dalam usus terjadi perubahan seperti diatas

Gejala Klinis :
1. Asymptomatik ( Tidak menimbulkan gejala ). Hanya kebetulan ditemukan dalam tinja
2. Amoebiasis intestinal chronuc, sering diare dengan darah & lendir berulang-ulang
3. Amoebiasais hati : Panas ↑↑, nyeri perut kanan atas, Bila diaspirasi keluar pus

Therapi :
Metronidazole 50 mg/kg/hr ( 10 hari )

K. Malaria
Definisi :
Pennyakit akut / kronis yang disebabkan oleh protozoa, genus plasmosium yang ditandai dengan panas, anemia & splenomegali

Etiologi :
1. Plasmodium Vivax : Penyebab malaria tertiana
2. Plasmodium falciparum : Penyebab malaria tropicana
3. Plasmodium malariae : Penyebab malaria malariae
4. plasmodium ovale : Penyebab malaria ovale

Gejala Klinis :
- Demam khas menggigil, frogotis
- Stadium akme : Puncak demam
- Stadium Sudoris : Keringat & suhu ↓
- Splenomegali
- Anemia karena RBC hancur, RES ↑

Diagnosis :
- Ditemukan parasit malaria dalam sediaan apus darah tepi
- Sediaan apus ada 2 :
1. Apus tipis :
Objek glass ditetesi darah dan ditarik ke belakang
2. Apus Tebal :
Ditetesi tanpa ditarik ke belakang

Therapi :

Chloroquin ( 10 mg/kg/hr )
0-1 th 1 – 4 th 5 – 9 th 10 – 11 th 12 th
½ tablet 1 tablet 2 tablet 3 tablet 4 tablet

Primaquin :
0 – 1 th 1 – 4 th 5 – 9 th 10 – 11 th 12 th
- ¼ ½ ¾ 1

Atau dosis : 10 mg/Kg/hr

Komplikasi :
- Terutama disebabkan ileh M. Tropicana
- Malaria cerebral :
1. Gagal ginjal mendadak
2. Shock
3. Anemia
4. DIC
5. Black Water paper ( Kencing hitam )
6. panas tinggi tanpa kejang

L. Askariasis
Etiologi :
Ascariasis Lumbricoides

Cara Infeksi :
Telur tertelan dengan makanan, dalam duodenum larva keluar menembus dinding duodenum  masuk kapiler darah  menuju jantung  Paru-paru  alveolus  Bronchiolus  Bronchus  Parinx  Tertelan langsung masuk dalam saluran cerna  Menetap di usus tempat cacinng menjadi dewasa. Lama 60 – 70 hr / 75 hari.

Gejala klinis :
1. - Nyeri perut, colix daerah pusar
- Perut buncit, mual, diare, muntah
- Distrofi akibat diare & anorexia
- Askariasis hanya mengambil sedikit KH, protein dan lemak tidak diambil  PCM bisa karena anorexia / diare
2. Alergi akibat larva didalam darah
3. Traumatic dapat menyebabkan abses dalam usus, iritasi ( Diare + muntah )
4. Menyebabkan kelainan pada otak karena larva bisa menembus ke otak

Therapi :
Combantrin ( Pirantel Pamoat ) 10 mg/hr

M. Oksyuriasis
Etiologi :
Oxyuris Vermicularis ( Cacing Kremi / Pin worm )

Cara Infeksi :
- Menelan telur
- Retroinfeksi, yaitu dari anal naik langsung ke atas, karena telur menetas dalam duodenum  Larva bergerak  Menetap sebagian. Cacing dewasa di caecum. Cacing betina yang hamil pada malam hari bergerak ke anus dan bergerak pada diinding usus dan bertelur dapam lipatan kulit anus

Gejala :
- Pruritus ani ( gatal pada malam hari )
- Anorexia, perut keras, badan kurus, tidur terganggu

Therapi :
Piperazin Sitrat 65 mg/kg/hr  6 hari

N. Trichuriasis
Etiologi :
Trichuriasis Trichiura ( Thred Worm )

Patologi :
Dianggap non patogen. Tapi bila jumlahnya banyak  Menyebabkan kelainan :
- Bagian Posterior melekat pada mukosa usus
- Cambuk  Menyebabkan perdarahan chronic, dalam jumlah besar

Cara infeksi :
Menelan telur yang dibuahi  larva melekat pada usus halus sampai dewasa

Gejala Klinis :
Nyeri abdomen  Gangguan FI tract

Therapi :
Tiabendzol 25 mg/kg/hr

O. Anchylostomiasis
Etiologi :
- Ancylostoma Duodenale
- Necator Americanus

Siklus Hidup :
Telur yang keluar dari feces, dalam tanah yang lembab, telur akan menetas  Larva menembus kulit  Pembuluh limfe & darah  Alveolus  Bronchus  Trachea  Bersama air lliur masuk ke usus lagi ( Beda dengan ascariasis larva diusus )

Gejala Klinis :
Satu ekor cacing menyebabkan kehilangan darah 0,03 cc/ hr  Anemia
Gejala : Pucat, letih, lesu, nafsu makan turun

Therapi :
- Pirantel pamoat 10 mg/kg/hr
- Memperbaiki keadaan umum dan anemi

P. Candidiasis
- Merupakan jamur yang bersifat acute, disebabkan oleh candida, terutama candida Albicans
- Mengenai : Mulut, vagina, kulit, kuku dan paru-paru
- Kadang menyebabkan : Septikemia, endocarditis, meningitis
- Klasifikasi berdasarkan tempat :
1. Candida selaput lendir : Trush, Vulvovaginitis
2. Candida Cutis : paronekia
3. Candida sistemik yang menyebabkan endocarditis, meningitis

Gejala Klinis :
a. Trush & membentuk pseudomembran putih coklat yang menutup lidah dan mulut
b. Petechie ( Fissura pada sudut mulut )
c. Vulvovaginitis : Gatal daerah vulva, panas dan nyeri setelah BAK
d. Balanitis : Berupa erosi, fistula didinding gals penis
e. Paronekis : Kuku tebal, keras dan mengeras, berlekuk, dan berwarna kehitaman
f. Diaper – Rush : terdapat pada bayi, iritasi pada lipat paha & bokong merah-merah

Pemeriksaan :
Kerokan kulit / kuku dengan larutan KOH 10% akan terlihat sel ragi & hife

Therapi :
Topikal :
Larutan gentian violet 0,5 – 1 % ( Untuk selaput lendir )
1-2 % untuk kulit

Sistemik :
Nistatin tablet

Q. Infeksi Nosokomial
Definisi :
Infeksi yang didapat seorang penderita selama dirawat di RS. Disebut infeksi nosokomial jika :
1. Pada waktu penderita mulai dirawat di RS tak dapat ditemukan gejala klinis
2. Pada waktu penderita mulai dirawat di RS, sedang dalam masa inkubasi dari infeksi tersebut. Misal : Anak masuk 2 – 3 hari timbul bercak-bercak morbili
3. Tanda-tanda klinik infeksi baru timbul setelah 3 hari shock mulai perawatan
4. Infeksi tersebut bukan merupakan sisa dari infeksi sebelumnya

Pencegahan : Higienitas
1. Persiapan penderita pra bedah
2. Persiapan kamar bedah
3. Persiapan lingkungan kamar operasi
4. Kebersihan laulintas ruang operasi

Infeksi Nosokomial dapat terjadi karena :
1. Infeksi silang yaitu infeksi yang disebabkan oleh kuman yang didapat dari orang lain di RS
2. Infeksi lingkungan yaitu infeksi yang disebabkan oleh kuman yang didapat dari benda yang tidak bernyawa di lingkungan RS
3. Infeksi sendiri : Disebabkan oleh kuman yang berasal dari penderita sendiri.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s