ANEMIA APLASTIK


PENDAHULUAN
Anemia aplasik banyak ditemukan di seluruh dunia, tidak hanya di negeri yang sedang maju. Inseden dan angka kematian pada anemia aplasik dapat disebabkan oleh infeksi dan pendarahan, pengobatan sering kali memerlukan waktu yang panjang dan kejadian relaps setelah pengobatan sering terjadi.

DEFENISI
Anemia aplasik adalah suatu keadaan berkurangnya sel-sel darah pada darah tepi (pansitopenia), sehubungan dengan terhentinya pembentukan/ tidak terbentuknya sel hematopoetik di dalam sum-sum tulang (aplasia).

ETIOLOGI
Anemia aplasik bisa berupa kelainan kongenital (genetik) bisa berupa kelainan yang di dapat. Sebagai kelainan kongenital anemia aplastik dibedakan menjadi dua kelompok :
1. Aplasia yang hanya mengenai salah satu dari sel. Misalnya :
 Anemia hipoplastik kongenital (erithroblastopenia)→ seri eritropoetik
 Agranulositosis, genetik infanital (agranulositosis) → seri granulopoetik
 Amegakaryolite trombositopeni purpura → seri trombopoetik.
2. Aplasia yang mengenai seluruh seri hematopoetik dan biasanya disertai dengan kelainan kongenital. Misalnya :
 Sindrom kongenital
 Diskeratosis bawaan.
 Anemia aplastik konstitusional tampa kelainan kulit atau tulang.
Sedangkan anemia aplasik yang di dapat adalah yang berasal dari
1. Bahan-bahan kimia dan obat-obatan
Seperti: Radiasi, benzen, bahan-bahan toxic seperti insektisida, obat-obatan sitosantika, kloramphenicol, oksiperbutazon, sulfonamid.dll.
2. Virus
Seperti: Hepatitis virus, sitomegalo virus, dengue, hespes simplex, robeola dan varicella.
3. Idiopatik
Kelompok ini merupakan kelompok yang terbesar, hampir 50 % penderita anemia aplasik tergolong idiopatik, pengertian idiopatik tidak menyingkirkan kemungkinan adanya penyebab, sekalipun sampai saat ini belum terbukti.

INSIDENS
Anemia aplasik biasanya terdapat pada anak besar berumur lebih dari 6 tahun despresi sum-sum tulang oleh obat atau bahan kimia meskipun dengan dosis rendah tetapi berlangsung sejak usia muda secara terus-menerus, baru akan melihat pengarunya setelah beberapa tahun kemudian, misalnya pemberian kloramphenicol yang terlampau sering pada bayi (sejak umur2-3 bulan) baru akan menyebabkan gejala anemia aplasik setelah ia berumur lebih dari 6 tahun. Disamping itu pada beberapa kasus gejala sudah timbul hanya beberapa saat ia kontak dengan agen penyebabnya.

PATOGENESIS
Hingga saat ini teori yang paling kuat di anut adalah kerusakan pluri potent stemsell, yaitu sel-sel primitive pada sum-sus tulang yang memiliki kemampuan ber differensiasi menjadi berbagai seri hematoepotik. Dan juga dikembangkan pula teori mengenai kerusakan micro environment yaitu kerusakan lingkungan sekitar sel-sel pluri potent sehingga menyebabkan hilangnya kemampuan sel tersebut untuk berdifferensiasi, apabila faktor yang merusak micro environment diperbaik, maka kemampuan sel-sel pluri potent akan meningkat kembali. Faktor-faktor yang merusak mikro environment dihubungkan dengan penekan secara imunulogi pada beberapa keadaan seperti anemia aplasik yang disebabkan oleh virus, patogenesis kemungkinan karena kurusakan pada organ-organ perifer.

GEJALA KLINIK
Pada sebagian besar penderita anemia aplasik didapat gejala pertama adalah anemia dengan atau tanpa pendarahan. Sering pula disertai dengan demam dan tanda-tanda infeksi. Pendarahan dapat berupa purpura, epistaxia, bahkan dapat terjadi pendarahan gastrointestinal. Infeksi mudah terjadi karena adanya granulositopenia. Pembesaran kel limfe dan limpa tidak dijumpai karena sifatnya aplasia pada sistem hematopoetik, sering juga dijumpai adanya ukresi mulut dan tenggorokan. Keadaan anemia akan menyebabkan berbagai gejala seperti pucat, anorexia, lemah, sesak, jantung berdebar-debar dan bahkan bisa jatuh ke decompensasio cordis.

DIAGNOSIS
Diagnosis anemia aplasik di tegakkan berdasarkan :
1. Gejala klinis : pucat, demam, pendarahan, tanpa hepatosplenomegali
2. Trias : anemia, leukopenia (Netropenia <2500/mm3) dan trombositopenia
3. Pemeriksaan laboratorium.
Gambaran darah :
 Kadar heamoglobia menurut, bisa sangat rendah.
 Eritrosit : normositik normokrom kadang-kadang bisa makrositik, anisositosis, piokilositosis dan dapat pula di jumpai sel darah muda.
 Retikolosit : biasa rendah tapi btsa normal.
 Leukosit : leukopenic.
 Trombosit : trombositopenic.
 Hitung jenis : limfositosis relatif.
Diagnosa pasti dari Anemia Aplastik yaitu dengan melihat :
Gambar sum-sum tulang :
1. Menurutnya aktivitas seluruh seri hematopoetik, sel mega karyolitic tidak di jumpai.
2. Banyak sel lemak, jaringan ikat dari sel-sel RES (sel Plasma Mast Cell, histosit cell).
DIAGNOSA BANDING
1. Idiopatik Thrombocytopenik Purpura (ITP).
2. Leukemia Limfositik Akut.
3. Stadium pre leukemik dari leukemia akut.

KOMPLAKSI
 LEUKEMIA AKUT

PENGOBATAN
Ada 3 hal penting dalam penatalaksanaan penderita anemia aplastik
1. Pengobatan supportif yang terdiri dari :
• Koreksi terhadap anemia.
 Diberikan tranfusi.
• Atasi pendarahan
 Diberikan platelet concentrate 0,1-0.2 unit/ kgBB, diulang bila perlu sampai pendarahan dapap diatasi → sering dipakai.
 Prednison dapat digunakan sebagai tambahan untuk mengurangi kecenderungan pendarahan.
2. Cegah danatasi iflaksi
• Isolasi → dalam ruang suci hama
• Pengobatah infeksi dengan pemberian antibiotika → jangan berikan antibiotika yang dapat mendepresi sum-sum tulang (klorampnenicol).
• Pemberian granulosit sekitar 20 milliun setiap hari pada penderita dengan kadar granulositnya < 200/mm3.
3. Pengobatan spesifik.
• Stimulasi dan regenerasi sum-sum tulang.
 Diberikan preparat androgen yaitu testosteron, yangdapat diberikan secara oral 1-2 mg /kg BB / hari.
• Tranplantsi sum-sum tulang
 Cara yang paling baik untuk anemia aplasik.
• Infusion of tetal liver cell.
 Sel hati terus pada masa permulaan embrio karena banyak mengandung stem cell, dengan derajat kemampuan imenu yang rendah, sehingga baik digunakan sebagai transplantasi sum-sum 2 x / g.
• Antithymocire Globulin.
 Sel-sel pluripotent yang tidak berfungsi sdisebabkan karena disekitarnya terdapat banyak T limposit yang menekan kemampuannya berdiferensiasi.

PROGNOSIS
Proggnosis bergantung kepada :
1. Ganbaran sum-sum tulang (hipocellular).
2. Jumlah granulosityang lebih dari 2000 /mm3 menunjukan prognosis yang lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA

1. Salonder H, Anemia Aplasik dalam Ilmu Penyakit Dalam jilid II, FKUI, Jakarta,1994 : 396 – 403

2. Baldy C.M, Anemia Aplasik dalam Patofisiologi, Jakarta, 2000 : 234 – 3

3. corwin E.J, Anemia Aplasik dalam Buku Saku Patofisiologi, EGC, Jakarta : 122 – 2

4. Linch.D,et,all. Anemia Aplasik dalam Buku Atkas Bantu Hematologi Hipokrates, Jakarta 1995 : 25 – 8

5. Azwar.N. Anemia Aplasik dalam buku Catatan Kuliah Patologi Klinik, FK-UNBRAH, Padang 1995.

6. Acang N. Anemia Aplasik dalam buku Catatan Kuliah Ilmu Penyakit Dalam, FK-UNBRAH, Padang 1997.

About these ads

6 thoughts on “ANEMIA APLASTIK

  1. menjawab pertanyaan penulis di blog saia…

    desain blog muslimshare sebenernya ambil dari themes wordpress, jadi g’ didesain sendiri. lagian saya juga g’ jago desain… he….

    mbak, belajar aja dari tutorial wordpress… browsing di mbah google juga bisa.. gimana cara upload di sidebar, gimana bikin link, gimana bikin header, dll…

    kalo ada yang mau ditanya lagi, silakan mampir ke muslimshare

    salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s