Electro Convulsive Therapi ( ECT )


  1. I. Pendahuluan

–    Sebagai perubahan penyakit psikiatrik

–    Menghasilkan kejang

–    Sebagai garis perubvahan kedua sehingga diberikan apabila obat tidak berespon

–    Sakit fisik >< obat psikotropik manula depresi terganggu  hantaran jantung

–    Hypoaktivitas & Hiperaktivitas, kkurang tidur, gangguan makan/minum & perilaku bunuh diri, dll

–    Psikotik  selama kehamilan ( Trimester III )

–    Depresi berat ( Banyakk menangis )

 

  1. II. Persiapan Penderita & Cara Melakukan ECT

Sebelum Perlakuan ECT

–    ( Faktor fisik ) à  Cor/ Pulmo/ Corpus vertebra

–    Puasa  à Bahaya Pneumonia

–    Vesica Urinaria  :  Inkontinensia

–    Gigi  :        –   Palsu

–   Tongspatle / karet

–    Pakaian / posisi datar

–    Elektroda & kepala

–    Penolong + flexi anggota gerak

–    Rambut

 

ECT ( Electro Convulsive Therapi )

TEK  :  Therapi Elektro Konvulsif / Therapi kejang listrik

 

Therapi ECT merupakan peubahan untuk penderita psikiatrik berat, dimana pemberian arus listrik singkat dikepala digunakan untuk menghasilkan kejang tonik klonik umum

 

Penemu  :

–       Von Medunna

–       Ugo Corietti

–       Lucio Binni ( 1930 ) melakukan ECT pertama kali

 

Indikasi  :

–    Depresi berat, obsesif compulsif, gangguan bipolar

–    Schizoprenia ( Katatonia, stupor, paranoid, kegaduhan akut )

–    Sulit makan dan minum obat

–    Keinginan bunuh diri

 

Kontraindikasi  :

–    Gangguan nafas K.P Duplex

–    Infark miocard

–    Hipertensi berat

–    Penyakit tulang dan fraktur vertebralis & Cervical

 

Komplikasi  :

–    Gangguan daya ingat  : 75% kasus, tapi dapat pulih setelah 1 – 6 bulan kemudian / berikutnya

–    Kematian angka mortalitas 0,002%

–    Fluksasio tulang

–    Bingung

–    Aritmia Cordis

 

Pemberian  :

–    Biasanya diberikan 3 x 1 minggu, depresi berat 6 – 12 x

–    Pasien episode mani 8 – 20 x

–    Pasien schizoprenia 10 – 20 x

 

Persiapan  :

  1. Alat : Obat, infus, oksigen, long spatel
  2. Pasien  :

–    Surat persetujuan ( Informed consent dari keluarga )

–    Puasa minimal 6 jam sebelum perlakuan

–    Kosongkan kantong kencing, rektum

–    Pakaian dilonggarkan

–    Gigi palsu dilepas

–    Spatel dipasang

 

Pasca ECT  :

–    Pasien tidur

–    Awasi vital sign

–    Keluhan pasien  :  Bingung, pusing dapat hilang sendiri, analgetik bila diperlukan

 

 

III. Reaksi Penderita

–    Konvulsi epilepsi grand mal

–    Fase tonik  :  10 menit

–    Fase klonik  :  30 – 40 menit

–    Fase reaksi  :  Nafas dalam & kuat

–    Tidak  sadar  :

–    10 menit

–    Kepala miring

–    Sadar  :

–    Bingung

–    Tertidur > 1 jam

–    Dijaga

 

IV. Frekuensi

Jumlah pengobatan  :

–    Berdasarkan respon klinik

–    Dihentikan  :

–    Respon klinis diperkirakan cukup

–    Tidak ada perbaikan 6 – 12 x

–    Efektif perminggu pengobatan diantara pasien bisa 20 – 25 x

–    Secara lazim 2 – 3 x  per minggu

–    Maintenance 1x/ 2- 4 minggu

–    Sebelum jaman psikotropik paling sedikit  :  12 x bila perlu 20 x

–    Sekarang oleh karena dengan obat, di stop, setelah respon klinik baik

–    Pasien akkut dengan sangat gelisah dapat secara “ Block “ 2 – 4 hari berturut-turut 1 – 2 x / hari

 

  1. V. Kontraindikasi

Bukan terhadap aliran listrik tapu terhadap konvulsi

  1. 1. Absolut  :

–       Miocard infark

–       TBC dengan kaverne

–       Fracture

–       Tumor otak

  1. 2. Relatif  :

–       Penyakit jantung lainnya

–       TBC tanpa kavernae

–       Penyakit tulang lainnya ( Osteoporosis, osteomyolitik, TBC tulang )

–       Umum & kehamilan anak dalam kandungan, hypotesa

–       Radang

–       Gangguan pembuluh darah ( aterosclerosis, anerisma, hypertensi )

–       Tekanan intrakranial ↑↑

–       Thrombosis coroner

 

VI. Komplikasi / Efek Samping

Yang selalu terjadi  :

–    Perdarahan lambat diotak

–    Apneu

–    Sirosis ringan

–    Hipoxia

–    Cephalgia

 

Yang selalu terjadi  :

–    Bibir / lidah tergigit

–    Gigi goyang

–    Fraktur  :

–    Tulang belakang

–    Tulang pipih ( Illeum & Scapula )

–    Luksasio Mandibulae

–    Pneumonia

–    CVA / stroke

–    Apneu terlalu lama

 

Pengobatan Pemeliharaan ECT

–    Dapat menimbulkan remisi

–    Tidak mencegah relaps

–    Selalu terus mendapatkan anti depresi

–    ECT selalu periodik usaha untuk mencegah kambuh masih perlu dijelaskan

 

Therapi Pilihan ECT  :

–    Didasarkan penilaian resiko & manfaat dari semua bentuk perubahan tetapi juga tergantung konstielasi gejala yang muncul

–    Morbilitas farmakologi cukup tinggi, selain efektif masih merupakan perubahan teraman bagi beberapa pasien

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s