SISTEM PENCERNAAN


A. Keseimbangan Air dan Elektrolit
1. Air Tubuh Tdd :
a. Lean Body Mass ( Tubuh tanpa jaringan lemak ) : Yaitu : air, tulang, jaringan bukan lemak
b. Jaringan Lemak : Air tubuh terdiri dari 70-80% LBM, karenanya orang gemuk relatif mengandung sedikit air daripada orang kurus
2. Extraceluler 2/3, Intraceluler 1/3
Secara fisiologis penambahan cairan extraceluler melalui minum, infus, cairan akan selalu tetap karena dikeluarkan melalui paru-paru, kulit, usus dan ren
3. Distribusi Zat Terlarut
– Ion kalium ( K ) dominan dalam Intraseluler
– Ion natrium ( Na ) dominan dalam extraseluler
– Adanya zat terlarut dalam cairan tubuh maka timbul keseimbangan :

a. Keseimbangan elektrolit
Ex : Kation 134 mg/L. Anion 135 mg/L
b. Keseimbangan osmotik
Ex : Osmolaritas intrasel = extrasel
c. Hukum keseimbangan asam basa
Ph = Pk + log ( HCO2- ) CO2
H2CO2 H2O
4. Distribusi ( Cairan Plasma & Interstitial )
Plasma = Intravaskuler
ECF dibagi
Interstitial
– Di Vena ( Venula ) : Protein lebih tinggi ~ air + zat terlarut cenderung bergerak ke plasma
– Di arteri (arteriole ) : Tekanan hisrostatik > tekanan osmotik. Air dan zat terlarut ~ Interstitial
Pada pertemuan arteriole dan vena terjadi keseimbangan dari starling
5. Cairan Transeluler
Merupakan bagian cairan extracel yang sedikit dibanding cairan sebdi, cairan otak, dll

 Regulasi Air
Pengeluaran & pemasukan cairan tubuh secara Faal harus seimbang.
Cara tubuh untuk mempertahankan keadaan ini dengan cara : Merangsang ADH
 Mekanisme
– Bila ECF <>  hipotoni  ADH ↓  reabsorpsi ↓  Ekskresi air ↑

B. Diare dan Gastroenteritis
Definisi diare :
Perubahan konsistensi gerak dari lembek sampai dengan cair. Frekuensi > 3x/hari

Gastroenteritis :
Sindrom klinik dari diare dan atau tanpa muntah yang terjadi secara akut dan sering disertai dengan panas dan gangguan konstitusional yang berasal dari infeksi diluar saluran cerna

Diare akut :
Diare yang terjadi secra mendadak pada bayi dan anak yang sebelumnya sehat

Diare Kronik :
Diare >, RBC ( +/n )
– Shigella
Hidup dalam colon dan menmbus dinding menyebabkan kerusakan e. Dalam tinja : darah + nanah ( RBC,WBC )
– E. Coli
Hidup di usus halus
Dalam tinja : darah ( -)
– Bacteria Apatogen
Dalam keadaan DCM ( pacticomensial ), prematur, def.immun  terjadi “overgrowth Of bacteria”  diare

2. Faktor Makanan
– Makanan baru / perubahan susunan lemak
– Maknan beracun / tercampur racun
– Mengandung racun kuman
– Tidak diabsorpsi dengan baik

3. Faktor konstitusi
– Intoleransi lactosa
– Malabsorbsi lemak
– Alergi
Akibatnya makanan berlebihan di lumen usus  tekanan osmotik meningkat, menyerap air intra cranial  terjadi diare osmotik

Amoebiasis
Etiologi : Entamoeba histolitika
Pada mukosa colon  Necrosa
Feces : Lendir, darah
Hepar  Abses hepar

Gejala :
– Kejang abdomen
– Tenesmus ( sakit pada rectum )
– Berak lendir daan darah
– Temperatur normal /↑

Therapi : Flagil 50 mg/K/hr  10 hr

Dycentri Baciller
Etiologi : Shigella ( gram (-) )
Pada mukosa colon  nembus dindind, feces : lendir darah

Gejala : ~ Amubiasis
Therapi : Sulfa / ampicillin

Cholera
Etiologi : Vibrio Cholera
Vibrio cholera pada usus halus menetap tanpa merusak
Mukosa  Entrotoxin  Adenil cydase ↑  Cl- dikeluarkan secara aktif Na, K, bic Na+, keluarkan dengan pasif. Reaksi berjalan 24 – 36 jam

Gejala : ~ mudah, terjadi shock
Therapi :
– Infus RL ( Rinjer Lactat ) guyur / cepat
– Tetracyclin

Akibat diare
1. Kehilangan air dan elektrolit ( dehidrasi ), gangguan keseimbangan asam basa
2. Gangguan gizi sebagai akibat kelaparan ( intake 10% BB

Dehidrasi menurut tonisitas / Na yang hilang
– Dehidrasi hipotonik : ( Na+ ) : 130 mcg/L
– Dehidrasi Isotonik : ( Na+ ): 130 – 150
– Dehidrasi Hipertonik : ( Na+ ): > 150

Gejala Dehidrasi menurut Moirice King :
Tanda
0 (Ringan) 1
( sedang ) 2
( berat )
1. KU

2. Kekenyalan kulit
3. UUB
4. Mata
5. Mulut
6. Perut
7. Nadi Sehat

Normal

Normal
Normal
Normal
Normal
Kuat
120 Gelisah,cengeng,ngantuk,apatis
Sedikit kurang

Sedikit cekung
Sedikit cekung
Kurang
Kurang
Sedang
120 – 140
Ngigau, shock lama
Sangat kurang

Sangat cekung
Sangat cekung
Cyanosis
Cyanosis
Kecil
> 140

Nilai : 0 – 2  Ringan
3 – 6  Sedang
7 – 12  Berat
Gejala dehidrasi menurut WHO ( terlampir )

b. Asidosis Metabolik
pH rendah karena kehilangan basa
pH = PK + Log ( HCO2- )
( H2CO2 )
c. Defisiensi Kalium
Hypocholera ( perut kembung karena peristaltik ↓
Kal 10%  Shock  Gagal ginjal akut

PEMERIKSAAN
1. feces rutin : – Makros
– Mikros
2. Penunjang
– Pemeriksaan intoleransi lactosa  Clini test
– Pemeriksaan Malabsorpsi lemakn  Sudan III
– Pemeriksaan biopsi usus
– Pemeriksaan kultur tinja

Therapi
1. Rehidrasi  Infus
2. Refeeding
3. Medika mentosa
4. Edukasi ( pendidikan & penyuluhan )
C. Syndrom Malabsorbsi
Definisi : Adalah keadaan dimana terjadi gangguan digesti ( pencernaan ) dan absorpsi ( penyerapan )

Penyakit yang menyebabkan Malabsorbsi
1. Gangguan pancreas ( Fungsi eksokrin )
2. Gangguan empedu
3. Gangguan usus
4. Edukasi ( pendidikan & penyuluhan )

Gejala – gejala Malabsorbsi
– Diare sering kronik dan berulang
– Perut kembung
– Anak cengeng
– Mudah timbul infeksi lain karena defek imun

Macam-mcam Bentuk Kelainan malabsorbsi
1. Malabsorbsi Karbohidrat ( lactosa )
KH yang tidak diserap  Beban osmotik ↑ ( diare air )  oleh bakteri akan dibentuk gas ( kembung, berbuih, flatus )
Pemeriksaan : Clini Test

2. Malabsorbsi lemak
Lemak tidak diabsorbsi  lemak keluar melalui tinja, lengket, berkilat
Pemeriksaan : Sudan III

3. Malabsorbsi Protein
Terjadi pada :
– Gangguan pancreas ( enzym pencernaan terganggu )
– Kelainan mucosa usus pada pemeriksaan
4. Malabsorbsi Asam Empedu
– Terutama bayi pasca reseksi illeum
 Asam empedu yang tidak diabsorbsi  diare

D. Anoreksia
Adalah kehilangan nafsu makan, disebabkan oleh :
1. Kelainan Kebiasaan makan
– Suka memilih makanan
– Selera makan berubah – ubah
– Memilih orang yang melayani pada waktu makan
– Pemaksaan makan oleh orang tua
– Penolakan yang lebih hebat waktu makan oleh anak

2. Gangguan Psikologis
Jika sedih tidak mau makan, jika senang mau

3. Penyakit
– Semua penyakit yang menimbulkan demam
– PCM
– Kelainan anatomi saluran cerna, radang mulut
– Kelainan neurologis yang mengganggu efek mengunyah, menelan / mengisap

E. Muntah
Adalah pengeluaran isi lambung / oesophagus melalui mulut. Pathofisiologisnya : Muntah adalah suatu refleks dengan rangkaian :

1. Reseptor
Adanya reseptor pada saluran cerna yang mengakibatkan peningkatan pada serabut-serabut parasimpatis adalah zat kimia
2. Pusat
Pusat muntah  medulla Oblongata
3. Syaraf otonom yang ada di lambung

Proses Muntah
1. Nausea
Terjadi regurisasi dari usus uterus ke lambung
2. Tahap Retching
Lambung berkontraksi
3. Tahap Eksplosi
Pylorus menutup, spincter oesophagus membuka

Etiologi :
Semua kelainan yang menyangkut resptor diatas

Therapi :
– kausal
– Suportif  Dengan menyetop makanan
– Obat-obatan  Antihistamin, antikolinergik

F. Perdarahan
Dibedakan :
1. Bagian atas
– Hematemesis ( muntah darah )
– Melena ( keluar darah hitam dari rectum )
2. Bagian bawah
– Hematoschezia : darah segar melalui rectum
– Perdarahan dari distal colon
Etiologi bagian atas berdasarkan kelompok umur
Umur Sering terjadi Jarang terjadi
Neonatus
( 0 – 30 hari ) 1. Darah dari ibu tertelan
2. Gastritis
3. Esofagitis
4. Stress ulcer
5. Stenosis pylorus 1. kelainan pembekuan darah
2. Hemangioma
3. Perdarahan rongga hidung
4. Trauma
Bayi
( 1 – 12 bln ) 1. Gastritis
2. Esophagitis 1. Obat-obatan
2. Benda asing
Anak
( 1 – 12 th ) 1. Esophagitis
2. Ulcus pepticum
3. Varises esophagus 1. Obat-obatan
2. Benda asing
Remaja
( 12-15Th ) 1. Ulcus Pepticum
2. Varises esophagus 1. Obat-obatan
2. Benda asing

Bagian bawah ~ Kelompok Umur
Umur Sering terjadi Jarang terjadi
Neonatus 1. Fissura Ani
2. Invaginasi
3. Divertikel Meckel
4. Diare 1. DIC/PIM
2. Sepsis
Anak 1. Polyp colon
2. Diverticulum Meckel
3. Diare
4. Ascariasis 1. Polyp
2. Kelainan Pembuluh darah

Remaja 1. Polyp
2. Colitis Keracunan obat dan makanan
Diagnosis Perdarahan
Perlu diperhatikan 3 faktor
1. Umur Penderita
Perdarahan akibat invaginasi 70% terdapat pada bayi 100 mg/Kg
– Tidak beracun 0 – 50 mg/Kg
– Sedang 50 – 100 mg/Kg
– Untuk menghindari keracunan singkong
– Therapi :
– Diberikan antidotum, Na nitrit 3 % diberikan 10 cc dalam waktu 4 menit, dicampur dengan naCl, ditambah Naflosulfat 50 cc dalam 10 menit

Makanan Bongkrek
– Etiologi : karena mengandung pseudomonas cocovenam yang mengubah glaserin menjadi toksoplavin
– Gejala klinik : Nyeri perut, keringat, dispnoe ( sesak nafas ), spasme otot, vertigo
– Therapi ~ singkong : Antidotum
Guanidin hidroklorit 15 mg/Kg/hari

Jengkol
– Mengandung 2 % asam jengkolat
– Gejala Klinik : Sakit perut, muntah colix, disuris, oligari, anuri, kristal asam jengkolat menghambat urethra sehingga timbul infiltrat dan abses penis
– Therapi : Ringan : Sakit perut, muntah, colix,  Na bicarbonat + banyak minum
Berat = Oligouri, hematouria, infiltrat  Infus Ds + meylon 5 mg/Kg

J. Therapi Nutrisi & ASI pada Diare
– ASI terdapat faktor proteksi terdiri dari : Ab, WBC Enzym hormon
– Faktor proteksi :
1. Ig yang mengandung sIgA 90% yang resisten terhadap enzim proteolitik saluran cerna melindungi permukaan usus terhadap bakteri patogen
2. Laktoferin
Efek : Bakteriostatik
3. Bifidus
Memudahkan pertumbuhan lactobacillus bifidus yang fungsinya melindungi usus dari organisme patogen
4. Enzym Katalase, lisozimi & peroksidase yang bekerja sebagai Ab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s