Syaraf


A. Kejang Demam
Adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh yang disebabkan oleh suatu proses extracranium

Patofisiologi
Pada kenaikan suhu tubuh yang tertentu dapat terjadi perubahan keseimbanngan deari membran sel neuron dan dalam waktu singkat terjadi defusi ion Na & K melalui membran dengan akibat lepasnya muatan listrik sehingga terjadi kejang.

Faktor :
– Suhu
– Umur
– Genetik
– Gangguan SSP sebelum dan sesudah lahir

Pada tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda :
– Ambang kejang rendah sushu 380C  Kejang
– Ambang kejang tinggi suhu 410C  Kejang
( Ada faktor keturunan juga pada kejang )

LIVING STONE membagi menjadi 2 :
1. Kejang demam sederhana ( Simple Febril Convulsi )
2. Epilepsi yang diprovorkasi oleh demam  Tiger Of bay Fever ( ETF )

Living Stone membuat kriteria kejang pedoman menjadi sederhana :
1. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan – 4 tahun
2. Kejang berlangsung < 15 menit
3. Kejang bersifat umum
4. Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbul demam
5. Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal
6. Pencetusan EEG 1 minggu setelah suhu nornal  Normal
7. Frekuensi ……….. Kejang dalam 1 thn 6 tahun saat kejang
3. Frekuensi kejang > 4x dalam1 tahun
4. Gambaran EEG normal setelah tidak demam

Faktor genetik :
25% penderita kejang demam mempunyai keluarga dekat yang juga pernah menderita kejang demam

Penanggulangan / Penatalaksanaan :
1. Memberantas kejang secepat mungkin
2. Pengobatan penunjang  Panas diturunkan, pengisapan lendir, baju dibuka
3. Memberikan pengobatan rumat / standar
4. Mencari & mengobati penyebab

Bagan pemberantasan Kejang
1. Kejang
2. Dengan diazepam kejang akan hilang dan tunggu 15 menit, bila kejang beri diazepam lagi dengan dosis yang sama.
Bila kejang hilang langsung masuk lluminal, nila kejang masih, beri drip valium atau ditambah diazepam + luminal

 Luminal injeksi pada neonatus = 30 mg/IM
 Luminal unjeksi pada 1 bl – 1 th = 50 mg/IM
 Luminal injeksi > 1 th = 75 mg/IM
4 jam ( Luminal tab ) :

Hari I – II : 8 – 10 mg/kg/hr
Hari III : 4 mg/kg/hr

Profilaksis :
1. Profilaksis Intermitten ( waktu demam )
2. Profilaksis terus menerus 2 tahun
– Bila kejang terus, langsung diberi :
– Luminal
– BG
– Elektrolit
B. Epilepsi
Definisi :
Keadaan dimana pasien cenderung mengalami serangan kejang akibat lepasnya muatan listrik yang berlebuhan di sel neuron. Bangkitan dapat berupa : Gangguan kesadaran, gangguan fungsi motorik, gangguan sensorik, gangguan tingkah laku, kombinasi

Etiologi
– kejang demam
– Cerebral Palsy / trauma perinatal
– Infeksi SSP ( Encephalitis, Meningitis )
– Perdarahan otak, hydrocephalus
– Penyakit metabolik
– Keracunan ( Obat-obatan, timbal )
– Penyakit Sistemik
– Penyakit keturunan

Klasifikasi
1. Epilepsi Umum, dibagi :
• Epilepsi Grand mal
– Ditandai jeritan / pasien jatuh, kaku ( Tonik ), radang, sianosis, karena spasme otaot. Pernafasan disusul puse ( Klonik ) dimana terjadi kejang pada ke-4 tungkai
– Bunyi nafas mendengkur, mulut berbusa, setelah sadar pasien bingung beberpa saat. ( Fase tonik : 10-30 detik, Fase klonik : 30 detik )

• Epilepsi Mioklonik
Kontraksi singkat dari sekitar otot, sentakan dapat berulang

• Epilepsi Infantil Spasme ( Pada bayi )
Serangan berupa flexi / ekstensi otot secara mendadak berurutan sering disertai jeritan

• Epilepsi Petitmal
– Berupa gangguan kesadaran secara mendadak beberpa detik, kegiatan motorik berhenti
– Pasien tanpa reaksi, kehilangan tonus otot, sehingga kepala mengangguk-angguk

2. Epilepsi Fokal ( Fokal motor & Fokal Sensor )
Serangan yang mengenai suatu focus kecil diotak. Khas menggambarkan bagian otak yang terkena sehingga gejala yang timbul

3. Tidak dapat diklasifikasikan

Prinsip Pengobatan
1. Pilihan obat bergantung pada jenis serangan
2. Dosis rumat serendah mungkin
3. Kepatuhan makan obat

Obat antikonvulsan
Grand Mal
Pilihan I : Karbamazin, Luminal, Fenitoin, Valproat
II : Benzidoazepam
Petit Mal
Pilihan I : Valproat
II : Benzodiazepam
Mioklonik
Pilihan I : Valproat, Benzodiazepin
II : Etosuksimid
Infantil
Pilihan I : ACTH
II : Chlorazepam
C. Encephalitis
Definisi
Infeksi jaringan otak oleh berbagai macam mikroorganisme bisa bakteri, protozoa, cacing, jamur, virus

Gejala Klinis :
1. Panas
Temperatur sangat tingi sering terjadi hypopireksi ( 400 ). Nyeri kepala, mual, muntah

2. Gangguan kesadaran
– Kesadaran menurun
– Saraf cranial : Reaksi pupil
– Tekanan Intracranial ↑ ( Pupil edema )
– Sequele : Parase/Paralyse
3. Gangguan neurologis berupa kejang. = Diphteri
Gejala serebral terjadi paresis / paralyse

4. Refleks Patologis (+)
a. Refleks babinsky
Dengan benda agak tajam, telapak kaki digores dari tumit menyusuri bagian lateral ke jari manis.
(+) dorsofleksi ibu jari & penekanan jari lain
b. Refleks Oppen Hein
Dengan menguruti tulang tibia dengan ibu jari + jari telunjuk & dari atas menyusur ke bawah
(+) sama dengan babinsky
c. Rhoffman Tromer
Dengan petikan jari telunjuk ke tengan dengan kuku.
(+) gerakan mencengkeram
Pada tetani juga (+)
d. Refleks Klonus
Melakukan dorsofleksi kaki, kaki diangkat (+) terjadi clonus ( tarik menarik ) akibat otot yang hiperaktif

Prognosis :
50 % sembuh dengan sequele ( gangguan neurologis & Psychis ). Lebih muda terjadi lebih berat sequel ( <2th )

Pada LCS ( cairan )
– Warna jernih
–  sel 5-1500/mm3 dengan MN dominan
– Protein sedikit ↑
– Glukosa dalam batas normal
– EEG dalam batas normal
– Test Pandy & None (-)

Pengelolaan :
– Antibiotik – antipiretik
– Segi perawatan
– Anti konvulsi
– Neurotropik
– Diet etik

D. Meningitis
Definisi :
Infeksi pada selaput otak yang memberi gejala & tanda peradangan selaput otak yang dapat disebabkan oleh bacteri, virus, tuberculosa.

Berdasarkan etiologi dibagi 3 :
1. M. Bakteri ( M. Purulent )
2. M. Virus ( M. Aseptik )
3. M. TBC ( M. Tuberculosa )
Gejala Klinis ( Sama )
1. Tanda iinfeksi akut : Panas, anorexia
2. Tanda kenaikan intrakranial, muntah, nyeri kepala, kejang-kejang, kesadaran menurun, UUB menonjol, sutura melebar ( Belum menutup ), perdarahan retina, papil edema
3. Dapat terjadi kelumpuhan N.VI, VII, VIII dan hemiparesis yang bersifat sementara / menetap
4. Tanda rangsang meningeal
a. Kaku kuduk
b. Kerning Sign
Pasien baring terlentang alkukan fleksi pada sendi panggul, ekstensi
(+) Ekstensi lutut tidak seperti 1350C, disertai spasme otot paha & rasa nyeri
c. Tanda Brudzinsky I
Dengan cara : penderita menelentang. Tangan kiri pemeriksa dibawah kepala penderita dan tangan kanan diatas dada lalu kepala ditekuk sejauh mungkkin
(+) bila terjadi flexi involunter ( Flexi pada ke-2 tungkai dan panggul )
d. Tanda Brudzinsky II
Caranya sepertioi kering Sign
(+) terjadi flexi involunter pada sendi panggul & lutut kontra lateral

Laboratorium :
Pem LCS :
– Warna keruh
– Test pandy & None (+)
– Test None  reagen None 1 cc = LCS 1 cc. (+) Terdapat cincin kekeruhan, berarti kadar globulinnya tinggi. Ini lebih bermakna dibanding test Pandy
– Test pandy  Reagen 1cc + 2 tetes LCS
(+) saat ditetesi akan keruh berarti kadar proteinnya tinggi

Berdasarkan Etiologinya dibagi 3 :
1. M Bakteri / purulent
Definisi :
Infeksi bakteri, pada selaput otak yang memberikan reaksi purulent pada LCS

Pemeriksaan LCS :
–  sel 400 – 40.000/mm3
– &5 % PMN
– Kadar protein ( 60 – 500 mg% )
– Glukosa : 16 mmHg

Penyebab :
1. Gangguan dinamik pada LCS
a. Obstruksi aliran LCS diluar system Ventrikel :
– Trauma – Kelainan kongenital
– Infeksi – Perdarahan subarachnoid

b. Obstruksi alliran LCS didalam ventrikel
– Tumor dalam ventrikel
– Kelainan kongenital
– Perdarahan intra ventrikel
c. Kelainan pada pleksus choroid
d. Gangguan absorbsi

2. Peningkatan Volume Otak
a. Oedema yang menyeluruh akibat trauma
– Hipoxia  Bisa menyebabkan oedema dan hidrocephalus
– Infeksi  Encephalitis, peningkatan polipeptida

b. Oedema setempat
– Trauma
– Tumor

3. Peningkatan Volume daerah Cerebral
Obstruksi aliran darah vena
– Hipoxia
– Hipertensi
– hiperkalemia

4. Proses Desak Ruang
Pada abces cerebri, perdarahan & tumor otak

Gejala Klinik
– Sakit kepala – UUB
– Muntah – Hipoplia
– Iritable, apatis – Papil oedema
– Pembesaran kepala >>>  Pada anak < 2 th

Penatalaksanaan :
Tujuan menurunkan tekanan intrakranial untuk memperbaiki aliran darah otak dan mencegah herniasi, antara lain :

1. Mengurangi volume Komponen-komponen otak intrakranial dengan jalan :
a. Mengurangi volume cairan LCS
Obat : Acetazolamide
b. Mengurangi volume jaringan otak dengan cara osmo, therapi  Menarik cairan ekstra vasculer ke pembuluh darah otak  Diberi manitol ( Pekat )
c. Pengurangan volume darah intrakranial dengan cara melakukan hipertensi dan oksigenasi
2. Mempertahankan fungsi metabolisme otak dengan cara :
– Menurunkan suhu tubuh
– Pemberian O2
– Pemberian cairan glukosa

3. Menghindari peningkatan tekanan intracranial :
Posisi penderita setengah duduk  Akan menurunkan tekanan intrakranial

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s