MANIFESTASI ORAL PENDERITA AIDS


PENDAHULUAN (1,2,3)
Sejak ditemukan kasus AIDS di Amerika Serikat (AS) pada tahun 1981 hingga saat ini penyakit ini selalu menarik perhatian dunia kedokteran maupun masyarakat luas. Hal ini disebabkan oleh penyakit baru ini menyebabkan angka kematian yang tinggi, jumlah penderita yang meninggal dalam waktu singkat, dan sampai sekarang belum dapat ditanggulangi dengan tuntas. Meskipun demikian banyak hal yang telah dipelajari, di samping masih banyak yang belum jelas. Di Jakarta telah ditemukan kasus-kasus penyakit ini dalam bentuk ringan dan berat.
Penyakit ini sudah merupakan pandemi yang menyerang seluruh dunia. Data epidemiologi menunjukkan peningkatan yang cepat pada tahun terakhir ini khususnya dikawasan Asia Tenggara. Perawal 1 Januari 1997 dilaporkan ada 40.320 kasus AIDS, yang diperkiran kasus AIDS sebenarnya di Asia Tenggara ada lebih dari 3,75 juta orang. Pada saat ini di Indonesia diperkirakan terdapat 80.000 – 120.000 ODHA (Orang Hidup dengan HIV/AIDS) dengan faktor-faktor yang mempermudah terjadinya epidemi, maka Indonesia sangat terancam bencana nasional HIV/AIDS di tahun 2010. Masalah yang berkembang sehubungan dengan penyakit infeksi HIV/AIDS adalah angka kejadiannya yang cenderung terus meningkat dengan angka kematian yang tinggi. Di Indonesia penyakit HIV /AIDS juga sudah merupakan ancaman dan dan dalam 10 tahun terakhir telah merupakan the Emerging Infectious Disease .
Penyakit ini dicirikan dengan timbulnya berbagai penyakit infeksi bakteri, jamur, parasit, dan virus yang bersifat oportunistik atau keganasan seperti sarkoma kaposi dan limfoma primer di otak. Dengan ditegakkannya penyakit-penyakit tersebut, meskipun hasil pemeriksaan laboratorium untuk infeksi HIV belum dilakukan atau tidak dapat diambil kesimpulan, maka diagnosis AIDS telah dapat ditegakkan.
Manifestasi klinis yang pertama kali muncul pada penderita HIV positif atau AIDS adalah manisfestasi pada mukosa mulut (oral) seperti: candidiasis, leukoplakia, herpes zoster, herpes simpleks, dan ulkus aphthous. Pada paper ini akan secara umum akan dibahas mengenai AIDS dan secara khusus tentang manifestasi oral yang ditimbulkan.

DEFINISI
Berbagai definisi AIDS telah dikemukakan oleh para ahli, antara lain: (1,2,3,4,5)
1. Unandar Budimulja: AIDS adalah satu sindrom penyakit defisiensi imunitas seluler yang didapat, yang pada penderitanya tidak dapat ditemukan penyebab defisiensi tersebut. (1)
2. Arif Mansjoer: AIDS adalah kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh secara bertahap yang disebabkan oleh infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). (2)
3. http://www.info@infeksi.com.: AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome). Acquired artinya didapat bukan penyakit keturunan. Immuno berarti sistem kekebalan tubuh. Deficiency artinya kekurangan, sedangkan syndrome kumpulan gejala. AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang merusak sistem kekebalan tubuh manusia, sehingga tubuh mudah diserang penyakit-penyakit lain yang sangat berakibat fatal, padahal penyakit tersebut tidak akan menyebabkan gangguan yang sangat berarti pada orang yang sistem kekebalannya normal. (3)
4. http://www.certi.org/CMA/training/module1-5-indonesian/Modul1HIV.htm. AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome). A (acquired) = didapat. Berarti HIV menular dari orang yang terinfeksi ke orang lain, I (immune) = kekebalan yaitu mengacu pada sistem imunitas/kekebalan tubuh yang terdiri atas sel-sel yang melindungi tubuh terhadap penyakit. HIV menjadi masalah karena sekali ia memasuki tubuh seseorang, ia akan menyerang dan membunuh sel-sel kekebalan tubuh, D (deficiency) = defisiensi/kekurangan, berarti sesuatu yang tidak tercukupi dalam hal ini tubuh tidak memiliki cukup jenis sel tertentu yang diperlukan untuk melindungi diri terhadap infeksi sel-sel ini disebut sel kekebalan atau T, helpen cell. Sejalan dengan waktu, HIV membunuh sel-sel ini sehingga sistim kekebalan tubuh menjadi terlalu benar untuk menjalankan tugasnya, S (syndrome) = sindrom, sindrom adalah kumpulan tanda-tanda dan gejala yang berhubungan dengan penyakit atau kondisi tertentu yang timbul bersamaan. HIV merupakan sindrom karena penderita AIDS memperlihatkan gejala-gejala dan penyakit yang timbul bersamaan hanya pada orang yang menderita AIDS. (4)
5. http://www.kesrepro.info. AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrom) adalah sekumpulan gejala penyakit, yang timbul karena turunnya kekebalan tubuh yang didapat, karena adanya virus HIV di dalam darah. (5)

ETIOLOGI (3)
Penyebab AIDS adalah virus HIV (Human immunodeficiency virus) yang merupakan suatu retrovirus yang termasuk famili lentivirus. Jenis retrovirus memiliki kemampuan untuk menggunakan RNAnya dan DNA sel induk untuk membuat DNA virus baru dan terkenal pula karena masa inkubasi yang lama. Seperti retrovirus lain, HIV menginfeksi tubuh, memiliki masa inkubasi yang lama (masa laten klinis) dan pada akhirnya menimbulkan tanda dan gejala AIDS. HIV menyebakan kerusakan parah pada sistem imun dan menghancurkannya. Ini dilakukan dengan menggunakan DNA limfosit CD4+ untuk bereplikasi. Proses inilah yang menghancurkan limfosit CD4+.
Human immunodeficiency virus (HIV) dibentuk oleh sebuah pusat atau inti silindris yang dikelilingi amplop lipid berbentuk bulat. Inti bagian tengah dari bulatan ini terdiri atas dua rangakaian asam ribonukleat (RNA).

Seperti pada definisi yang telah dijelaskan di atas, pada penderita AIDS akan terjadi kemunduran sistem imun sehingga tubuh tidak mampu untuk mengatasi berbagai macam infeksi sehingga berbagai penyakit akan lebih mudah timbul dan lebih berat bila dibandingan dengan seseorang yang tidak menderita HIV atau AIDS.
Manifestasi oral dari penderita AIDS dapat disebabkan oleh infeksi jamur dari spesies Candida (seperti pada candidiasis oral), virus (pada herpes simpleks dan herpes zoster), bahkan iritasi berulang, merokok, komsumsi alkohol yang berlebihan seperti pada leukoplakia.

PATOGENESIS (3,4,5)
Virus HIV masuk ke dalam tubuh melalui berbagai cara, antara lain: (1) melalui cairan darah, (2) cairan sperma dan cairan vagina, dan (3) Air Susu Ibu. Setelah virus HIV masuk ke dalam tubuh, timbul infeksi primer yang menunjukkan waktu HIV pertama kali memasuki tubuh. Saat infeksi HIV primer, dalam darah seseorang tampak viral load yang sangat tinggi dan berarti ada banyak sekali virus dalam darah. Jumlah kopi virus per milliliter dalam plasma atau darah dapat melebihi 1,000,000. Orang dewasa yang baru terinfeksi akan mengalaim sindrom retroviral akut. Tanda dan gejalanya termasuk demam, mialgia atau nyeri otot, sakit kepala, mual, muntah, diare, keringat malam, berat badan turun serta timbul ruam. Tanda dan gejala ini umumnya terjadi dua sampai empat minggu setelah infeksi, mereda setelah beberapa hari, dan sering terdiagnosa sebagai influenza atau mononukleosis infeksiosa. Selama infeksi primer, jumlah limfosit CD4+ dalam darah turun secara nyata. Virus akan menargetkan limfosit CD4+ dalam KGB dan timus selama masa ini, membuat seseorang terinfeksi HIV rentan terhadap infeksi oportunistik serta membatasi kemampuan produksi limfosit T di timus. Tes antibodi HIV dengan menggunakan enzyme-linked immunoabsorbent assay (ELISA) atau enzyme immunoassay (EIA) akan menunjukkan hasil positif.

MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis dari infeksi HIV atau AIDS dapat dibagi dalam beberapa tahap, antara laian: (3)
1. Latensi Klinis (Kategori Klinis A)
Meskipun pasien yang baru terinfeksi HIV mengalami masa latensi klinis selama bertahun-tahun antara infeksi HIV dan timbulnya gejala klinis AIDS, telah terbukti bahwa replikasi dan rusaknya sistem imun terjadi sejak onset infeksi. Individu terinfeksi HIV mungkin tidak merasakan tanda dan gejala infeksi HIV. Pada dewasa, fase laten ini dapat berlangsung 8 sampai 10 tahun. Tes ELISA dand Western Blot atau immunofluorescencecassay (IFA) akan positif. Jumlah limfosit CD4+ lebih besar dari 500 cells/uL.
2. Tanda dan Gejala Awal HIV (Kategori Klinis B)
Orang yang terinfeksi HIV mungkin tampak sehat selama bertahun tahun namun kemudian berbagai tanda dan gejala minor mulai muncul. Pasien akan mengalami kandidiasis, limfadenopati, karsinoma serviks, herpes zoster, dan/atau neuropati perifer. Viral load meningkat dan jumlah limfosit CD4+ turun menjadi sekitar 500 cells/uL.
3. Tanda dan Gejala Lanjut HIV (Kategori klinis C).
Individu terinfeksi HIV akan mengalami berbagai infeksi yang mengancam nyawa serta keganasan. Terjadinya pneumonia oleh Pneumocystis carinii, toxoplasmosis,
cryptosporidiosis, dan infeksi oportunis lain sering dijumpai. Ia dapat pula kehilangan berat badan. Viral load terus meningkat dan jumlah limfosit CD4+ turun sampai di bawah 200 cells/uL. Berarti ia telah memenuhi definisi AIDS.
4. Penyakit HIV Parah/Advanced HIV Disease (Kategori Klinis C).
Individu terinfeksi HIV terus mengalami infeksi oportunistik baru seperti cytomegalovirus, Mycobacterium avium complex, cryptococcal meningitis, progressive multifocal leukoencephalopathy, dan penyakit lain yang muncul pada sistem imun yang telah rusak parah. Viral load sangat tinggi dan jumlah limfosit CD4+ adalah < 50 cells/uL. Kematian sudah tak terelakkan.

MANIFESTASI ORAL (6,7,8,9,10,11)
Manifestasi oral dari AIDS antara lain: (1) candidiasis oral yang persisten, (2) oral hairy leukoplakia, (3) herpes simpleks virus yang persisten, (4) reaktifasi virus herpes zoster, (5) ulkus aphthous dangkal.
1. Candidiasis Oral.
Candidiasis oral (thrush) adalah infeksi pada mulut dan atau kerongkongan yang disebabkan oleh jamur. Candidiasis oral kadang-kadang dapat terjadi tanpa gejala, gejala yang paling umum adalah rasa tidak enak dan terbakar pada mulut serta perubahan rasa.
Candidiasis oral tergolong dalan mucocutaneous candidiasis. Mucocutaneous candidiasis pada infeksi HIV terdiri atas tiga bentuk antara lain: oropharyngeal, esophageal, dan vulvovaginal. Oropharyngeal candidiasis (OPC) adalah manifestasi yang pertama kali muncul dari infeksi HIV dan secara umum terdapat pada mayoritas penderita HIV yang tidak diobati. Pada beberapa bulan sampai tahun setelah terinfeksi virus HIV muncul infeksi oportunistik berupa orofaringeal candidiasis yang mungkin merupakan suatu tanda atau indikasi dari kehadiran/munculnya virus HIV, walaupun pada umumnya tidak berhubungan dengan keadaan umum pasien. OPC secara klinis adalah penting untuk mencurigai adanya infeksi virus HIV. OPC pada penderita AIDS tidak berespons dengan pengobatan atau dengan upaya peningkatan gizi (pemberian gizi yang adekuat) dan dapat menyebar ke esophagus.
Candidiasis persisten dengan eksudat berwarna putih yang sering disertai dengan eritematous pada mukosa. Candidiasis secara umum mudah dilihat pada palatum mole. Pada awalnya dapat pula terlihat lesi pada sepanjang perbatasan gingival. Untuk menegakkan diagnosis dilakukan pemeriksaan langsung dan akan ditemukan unsur-unsur pseudohypal yang merupakan karakteristik dari candida (Candida albicans). Pada keadaan yang berat dapat melibatkan esophagus sehingga menyebabkan disfagia atau odinofagia.
Gejala OPC terdiri atas rasa sakit membakar, sensasi rasa yang diubah, dan kesukaran untuk menelan cairan atau padat. Pada banyak pasien dapat asymptomatik. Kebanyakan orang dengan OPC akan menampilkan suatu pseudomembranous candidiasis (berupa plak berwarna putih pada mukosa buccal, gusi atau lidah) dan hanya sedikit orang yang menunjukkan atropik akut candidiasis (erythematous mukosa) atau hyperplastic kronis candidiasis (leukoplakia, cheilitis pada sudut mulut).

2. Oral Hairy Leukoplakia.
Leukoplakia adalah suatu bercak berwarna putih pada lidah atau lapisan mulut (di dalam pipi, atap, atau dasar mulut). Leukoplakia mungkin disebabkan oleh iritasi berulang pada bagian dalam mulut. Merokok dan mengkomsumsi alkohol akan meningkatkan risiko leukoplakia.
Oral hairy leukoplakia adalah suatu bentuk leukoplakia yang hanya terdapat pada individu HIV positif atau AIDS. Pada oral hairy leukoplakia tampak sebagai lesi filamen-filamen berwarna putih yang biasanya terdapat sepanjang garis lateral lidah. Oral hairy leukoplakia biasanya berkaitan dengan infeksi Epstein-Barr Virus (EBV). Keadaan ini sangat wajar terjadi karena pada penderita HIV terjadi kemunduran sistem imun yang biasanya terjadi pada pasien dengan 200 – 500 CD4+ sell/mL. Sehingga pada penderita HIV dan AIDS sangat sensitif untuk memperoleh penyakit ini. Pada beberapa kasus, leukoplakia dapat berkembang menjadi kanker.
Keadaan ini mungkin menyerupai suatu candidiasis oral yang juga berhubungan dengan infeksi HIV dan AIDS. Hairy leukoplakia mungkin merupakan salah satu tanda pertama dari infeksi HIV.

3. Herpes Simpleks.
Lesi akibat virus herpes simpleks. Pada umumnya lesi tersebut terdapat pada mulut dan genitalia, tetapi dapat juga terdapat pada perianal dan periinguinal. Lesi herpetik tampak menyerupai garis bergerombol berupa vesikel dengan dasar yang eritematous. Dengan ditemukannya (herpes simpleks virus) HSV pada lesi mencerminkan buruknya sistem kekebalan pasien karena infeksi virus HIV.

4. Herpes Zoster.
Reaktifasi kembali herpes zoster: Pada pengamatan terhadap pasien yang terinfeksi virus HIV, terdapat 10 – 20 % yang menderita ini. Penyakit ini biasanya terjadi oleh karena kemunduran sistem imun dan sering merupakan tanda klinik yang muncul pertama kali akibat keadaan defisiensi imun.
Reaktifasi kembali herpes zoster yang merupakan kelanjutan dari infeksi varicella zoster virus (VZV) berupa lesi yang meluas pada beberapa dermatom.
5. Ulkus Aphtous.
Ulkus aphtous yang dangkal dan terasa sakit pada umumnya terdapat pada bagian posterior orofaring. Ini terjadi pada 10 – 20 % penderitan yang terinfeksi HIV. Etiologi dari ulkus ini belum diketahui, ulkus ini akan memberi keluhan sakit atau nyeri hebat dan dapat menyebabkan disfagia jika tidak ditangani.

DIAGNOSIS (1,2)
Diagnosis dini infeksi HIV ditegakkan melalui pemeriksaan laboratorium dengan petunjuk gejala klinis atau adanya perilaku berisiko tinggi. Untuk diagnosis HIV, yang lazim dipakai adalah ELISA, Western blot, dan PCR.
Diagnosis candidiasis oral (orofaringeal candidiasis / OPC) pada umumnya dapat ditegakkan secara klinis, dan pada kultur oropharyngeal akan ditemukan spesies candida. Diagnosis pasti dapat ditegakkan dengan pemeriksaan kalium hidroksida (KOH) 10% dengan mengambil kerokan di atas lesi dan akan ditemukan unsur-unsur pseudohyphae atau ragi yang berkembang.
Diagnosis oral hairy leukoplakia ditegakkan dengan pemeriksaan PCR (polymerase chain reaction) dengan mengambil sediaan di atas mukosa yang menebal/lesi kemudian diperiksa dengan mikroskop elektron. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi adanya Epstein-Barr Virus (EBV)-DNA pada tempat lesi tersebut. Selain itu dapat juga dilakukan biopsi jaringan dan akan ditemukan hiperplasia epitel, penonjolan rambut serta sel-sel radang.
Diagnosis ulkus aphthous ditegakkan berdasarkan klinis, pada biopsi jaringan akan ditemukan sel-sel radang dan ini tidak merupakan temuan spesifik untuk diagnosis.
Diagnosis herpes simplex dan herpes zoster ditegakkan dengan pemeriksaan PCR, ini merupakan pemeriksaan yang sensitif. Pemeriksaan dengan pewarnaan giemsa akan ditemukan sel raksasa multinuklear dan di dalam inti terdapat inclusion yang spesifik untuk HSV atau VZV, tetapi sensitifitas pemeriksaan ini sangat rendah.

PENATALAKSANAAN
Sampai saat ini penyakit AIDS selalu berakhir dengan kematian, obat yang terbukti dapat memperlambat laju penyakit adalah zidovudin (ZDN). Dosis yang diberikan adalah 500 – 600 mg/hari, pemberian 100 mg/4jam. Didanosin (DDI) digunakan bila penderita tidak toleran terhadap ZDN atau sebagai pengganti bila ZDV sudah amat lama digunakan, atau bila pengobatan dengan ZDV tidak menunjukkan hasil. Dosis 2 x 100 mg/12 jam (BB 60 kg).
Pada keadaan yang lanjut dengan infeaksi oportunistik yang berat, obat yang dapat diberikan adalah ZDV dengan dosis awal 1000 mg/hari dalam 4 – 5 kali pemberian (BB: 70 kg).
Semua infeksi oportunistik pada penderita AIDS umumnya dapat diobati terutama bila pengobatan dilakukan sedini-dininya.

1. Candidiasis Oral
Kebanyakan obat antijamur yang diberikan pada penderita candidiasis oral tidak memberikan hasil yang memuaskan, karena pasien mengalami penurunan sistem kekebalan tubuh akibat limfosit T CD 4+ yang rendah. Tetapi ada beberapa obat-obat antijamur yang masih dapat berguna, antara lain: Fluconazole, itraconazole, clotrimazole, suspensi nystatin, dan suspensi amphotericin B (amphotericin B diberikan secara intravena pada kasus yang berat).

2. Oral hairy leukoplakia.
Pada dasarnya tidak memerlukan perawatan, sebab jarang menimbulkan permasalahan medis. Pada beberapa kasus keluhan akan berkurang dan hilang dengan pemberian acyclovir (zovirax) dosis tinggi sebagai anti virus (anti-EBV), tetapi pada umumnya lesi-lesi tersebut akan muncul kembali setelah terapi dihentikan. Berdasarkan penelitian, pemberian vitamin E akan memberikan perbaikan dan mengurangi lesi. Tindakan pembedahan mungkin dapat dilakukan dengan metode pembekuan.

3. Ulkus aphthous.
Pemberian obat anestesi secara topikal dapat mengurangi rasa sakit dan nyeri dengan segera.

4. Herpes simpleks dan herpes zoster.
Pengobatan dengan antivirus seperti: acyclovir, famciclovir, atau valacyclovir pada kasus yang sering kambuh.

DAFTAR RUJUKAN

1. Budimulja U. AIDS. Dalam: Djuanda A. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi Ketiga. Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 1999; 401 – 5.
2. Mansjoer A., Suprohaita, Wardhani WI., Setiowulan W., AIDS. Dalam: Kapita Selekta Kedokteran. Edisi Ketiga Jilid 2. Penerbit Media Aeskulapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 2000; 162 – 6.
3. http://www.info@infeksi.com.
4. http://www.certi.org/CMA/training/module1-5-indonesian/Modul1HIV.htm.
5. http://www.kesrepro.info.
6. Lopez FA., Talavera F., John JF., Mylonakis E., Cunha BA. In: http://www.emedicine.com/search/Early_Symptomatic_HIV_Infection Last_Updated: November 4, 2002.
7. http://www.mayoclinic.com/search/oral_thrush.
8. Http://hivinsite.ucsf.edu/InSite.jsp?page=kb-05-02-03.
9. http://www.projinf.org/fs/candida.html.
10. http://www.symptomtracker.com/page1331.htm.
11. http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001046.htm.

3 thoughts on “MANIFESTASI ORAL PENDERITA AIDS

  1. pada awal tahun 2006 saya pacaran,dan putus sekitar pada bulan juli 2007,terakhir saya mendengar khabar bahwa mantan saya itu meninggal (tahun 2009)karena HIV/AIDS,Dan itu membuat saya terpukul dan stres berat, Sehingga pada bulan Desember 2009 saya memutuskan untuk memeriksakan darah di Rumah Sakit Swasta Terkenal di bandung dengan metoda EIA (anti HIV rapid) dengan hasil NON REACTIVE (saya bersyukur karena kata dokter itu adalah NEGATIF). Karena masih penasaran dan stres tingkat tinggi saya periksa darah ulang di laboratorium ternama (masih di kota bandung) pada bulan februari 2010 menggunakan metoda ELISA dan hasilnya sama NON REACTIVE (di test dengan 3 metode). yang jadi pertanyaan saya :

    1. Dengan kedua hasil dari Lab dan RS tersebut apakah akurat…?
    2. Seberapa cepat orang akan terkena virus HIV…?
    3. Apakah saya harus test ulang…?
    4. Apakah dalam masa inkubasi virus HIV sudah bisa terdeteksi…?

    sebelumnya saya ucapkan terima kasih,dan jawabannya sangat saya harapkan…
    sekian dan terimakasih…

    • sebelumnya terimakasih buat sandy yang sdh berkunjung ke blog saya.

      tentang ke akuratan hasil lab, kalau untuk rappid test bisa saja terjadi human eror, seperti reagen yg kadaluarsa, dsb. untuk ELISA, sejauh ini kebanyakan untuk menilai ada tidaknya HIV memang ELISA yg di percaya.

      penularan HIV melalui 3 cara yaitu:
      1.Hubungan seksual (homoseksual / heteroseksual).
      2.Parenteral (jarum/ alat tindik, tatoo, tranfusi darah/ produk darah yang tercamar dan cangkok organ).
      3.Perinatal/ vertikal (penularan dari ibu yang mengidap HIV kepada anak/ janin yang dikandungnya).
      jadi penularan hiv terjadi saat adanya kontak antara kita dan penderita. dan kapan kita akan diketahui HIV +? yaitu 3 bulan sejak kontak tersebut. knp? krn selama 3 bulan itu akan terjadi reaksi imunologis melawan virus tersebut yg menghasilkan anti body. nah, antibody tersebut yg akan memberikan reaksi + pd hiv test.

      apakah kamu harus tes ulang? menurut saya ga perlu, kamu udah menjalani 2x test. apa lagi masa antar kamu pacaran 2007 dan test 2009, lebih dr 3 bulan. jd bila memang kamu terinfeksi HIV pastinya akan memberikan hasil +.
      tapi test lab itu adalah pemeriksaan pembantu, sebenarnya hiv bs dirasakan gejalanya, pernah ga merasa demam tanpa sebab, gampang sakit, berat badan menurun tanpa sebab, sakit paru2 ataw mencret tanpa sebab yg ga sembuh2. kalau semua itu terjadi kamu bisa tes CD4. bila CD4 kamu rendah (biasanya <400)itu menunjukkan ada penurunan sistem imun, dan itu indikasi dr HIV.

      seperti yg saya jelaskan di atas, pada masa ikubasi virus tdk dpt terdeteksi. krn masih terjadi reaksi imunologis dr tubuh, blm terbentuk antibody terhadap virus. setelah 3 bulan baru tibul antibody tersebut. dan antibody tsb yg memberikan nilai + pd pemeriksaan.

      saya kira itu jawaban yg bisa sy berikan,,,semoga bisa membantu…

  2. 9 hari yg lalu di tangan antara telapak dan sikut muncul tanda bulatan hitam sebesar 1 cm selama seminggu dan hilang sekarang muncul yg serupa di antara sikut dan bahu. tidak ada rasa sakit apa-apa ditanda itu.. Mohon penjelasan gejala apa ya ? terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s