KAIDAH FIKIH 3 [ La Dharar Wa La Dhira ra]


La Dharar Wa La Dhira ra = Tidak boleh melakukan perbuatan yang Berbahaya dan Membahayakan.

PENDAHULUAN

Kaidah Fikih ini adalah Salah satu kaidah yang menjadi pondasi utama ajaran Islam. Dari kaidah inilah banyak masalah cabang dari persoalan-persoalan kehidupan yang dapat terselesaikan.

ISI

Secara garis besar ada dua kata dalam kaidah fikih diatas, yaitu “DHARAR” dan DHIRAR”.

Kata “Dharar” menurut bahasa adalah lawan dari bermanfaat, dengan kata lain tidak bermanfaat atau bahkan dapat mendatangkan bahaya atau mudharat jika dikerjakan, baik kepada dirinya sendiri ataupun kepada orang lain.

Kata “Dhirar” menurut bahasa adalah balasan yang sengaja dilakukan sebagai balasan atas kemudharatan yang menimpanya. Dengan kata lain dia membalas atau menimpakan kemudharatan kepada orang lain sesuai dengan kemudharatan yang menimpa dirinya.

Sedangkan kita semua mengetahui bahwa kata “MUDHARAT” itu sendiri menurut bahasa adalah kebalikan dari manfaat, atau dapat juga dikatakan bahaya.

Jadi secara garis besar KAIDAH FIKIH ini melarang segala sesuatu perbuatan yang mendatangkan MUDHARAT/Bahaya tanpa alasan yang benar serta tidak boleh membalas KEMUDHARATAN/Bahaya dengan KEMUDHARATAN yang serupa juga, apalagi dengan yang lebih besar dari KEMUDHARATAN yang menimpanya.

Adapun Firman ALLAH Subhana Wa Ta’ala, “Janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi Kemudharatan, karena dengan demikian kamu menganiaya mereka” (QS.2:231),

Hadist Nabi Muhammad Shallallahu Alayhi Wasallam, “Barang siapa membuat Kemudharatan niscaya ALLAH juga membuat KEMUDHARATAN untuknya, dan barang siapa mempersulit niscaya ALLAH juga akan mempersulitnya. (HR,Abu Dawud).

Adapun Hubungan Kaidah ini dengan dunia kedokteran ataupun pengobatan ialah,

1.Larangan berobat dengan sihir

2.Larangan berobat tanpa ilmu medis

3.Larangan laki-laki mengobati wanita atau sebaliknya tanpa adanya alasan yang benar dan mendesak (sudah dijelaskan pada PESAN yang lalu di kaidah fikih kedokteran yang ke dua)

4.Larangan menimbulkan luka yang lebih besar jika hal itu bias dihindari

5.Larangan mempersulit pasien atau mempersulit dokter dengan alasan balas dendam karena masalah keluarga

6.Larangan melakukan otopsi jika tidak ada alasan yang benar dan mendesak

7.Larangan berobat dengan sesuatu yang diharamkan

8.Larangan berbohong oleh dokter kepada pasien dan pasien kepada dokter dengan alasan kebaikan yang dengannya dapat mendatangkan kemudharatan lebih besar nantinya.

9.Larangan melakukan operasi Caesar bila proses persalinan bayi dapat dilakukan dengan normal

10.Larangan melakukan donor atau transplantasi organ tubuh jika hal itu dapat merugikan pendonornya dikemudian hari.

11.Larangan bercampur baur dengan pasien yang memiliki penyakit menular yang dengannya dapat mendatangkan mudharat kepada orang yang sehat. Berdasarkan hal ini maka pasien dengan penyakit menular tertentu dapat dikarantina, sesuia juga dengan Hadist Nadi Muhammad Shallallahu Alayhi Wasallam, “apabila kalian mendengar ada wabah tha’un di suatu negri, jangan kamu datang ke sana. Dan jika terjadi wabah tha;un di negrimu, jangan kamu keluar melarikan diri darinya”.

12.Larangan memberi obat atau berobat dengan dosis yang berat jika dosis yang ringan masih dapat diberikan.

13.Larangan membebani biaya pengobatan atau obat yang mahal kepada pasien diluar batas kemampuannya dan dengan alasan yang tidak benar.

sumber:  grup FB “FIKIH KEDOKTERAN”  Author:Rachmat Faisal Syamsu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s