Gangguan Spektrum Autistik


( Autistic Spectrum Disorder )

Semua orang tua tentu menginginkan anaknya tumbuh sehat dan normal. Tetapi adakalanya keinginan tersebut tidak terpenuhi oleh karena satu dan lain hal. Salah satu kelainan yang menyebabkan gangguan perkembangan anak dan akhir-akhir ini terlihat meningkat pada masyarakat adalah Autisme.

Apakah Autisme itu ?

Banyak istilah yang berkaitan dengan penyakit diatas sehingga sering terjadi kerancuan. Apalagi penyakit ini menunjukkan gejala yang sangat bervariasi baik jenis maupun beratnya. Hal ini menyebabkan kebingungan di kalangan masyarakat dan orang tua sehingga mereka tetap bertanya-tanya, apakah Autisme itu ? Para ahli bersepakat untuk menggolongkan semua gejala Autisme dalam suatu spektrum yang disebut Gangguan Spektrum Autistik (Autistic Spectrum Disorder) dan masyarakat mengenalnya dengan istilah Autisme.

Gangguan Spektrum Autistik adalah suatu gangguan perkembangan yang sangat kompleks yang secara klinis ditandai oleh adanya 3 gejala utama yaitu gangguan dalam kemampuan interaksi sosial dan emosional, gangguan dalam kemampuan komunikasi, keterbatasan pola tingkah laku (minat yang terbatas, perilaku tak wajar) disertai gerakan–gerakan berulang tanpa tujuan (stereotipik). Gejala ini secara umum harus sudah terlihat sebelum usia 3 tahun.

 

Berapa banyak anak yang menderita Autisme ?

Estimasi prevalensi Autisme 4-5 pasien/10.000 individu, tetapi pada penelitian akhir-akhir ini ada kecenderungan terjadi peningkatan prevalensi penderita Autisme yaitu 10-12 pasien/ 10.000 individu. Jumlah penderita laki-laki 4x lebih banyak dibandingkan perempuan.

 

Apa penyebab Autisme ?

Penyebab Autisme sangat kompleks dan multifaktorial. Penelitian pada keluarga dan anak kembar menunjukkan bukti-bukti adanya faktor genetik dalam perkembangan Autisme. Selain itu faktor lingkungan seperti infeksi pada masa kehamilan, tercemar bahan-bahan toksik selama kehamilan, atau gabungan keduanya

 

Dimana terjadi kelainan pada Autisme ?

Kelainan terjadi pada otak. Pada Autisme terdapat pola pertumbuhan otak yang berbeda dari anak normal. Banyak sekali penelitian yang melaporkan kelainan pada hampir semua struktur otak, misalnya pada otak kecil (serebelum), lapisan luar otak besar (korteks serebri), sistem limbik (fungsi luhur), korpus kalosum (penghubung otak kiri dan kanan), ganglia basalis dan batang otak.

Terjadinya pola pertumbuhan yang abnormal tersebut dapat disebabkan oleh peningkatan abnormal suatu zat kimia otak yang bertanggung jawab untuk mengatur penambahan sel saraf, pertumbuhan dan perkembangan jalinan sel saraf (brain growth factors), sehingga bagian-bagian otak tumbuh dan mati secara tidak teratur. Selain itu dapat juga terjadi kerusakan sel Purkinye di otak secara primer oleh sebab yang tidak diketahui (faktor genetik) atau secara sekunder oleh karena obat-obat atau alkohol yang dikonsumsi ibu selama hamil (faktor lingkungan).

Beberapa faktor dapat mempengaruhi fungsi otak sehingga menimbulkan/ mencetuskan gejala Autisme, yaitu :

  • Alergi makanan : susu sapi, tepung terigu, telur, kacang tanah/ kedelai, ikan laut.
  • Keracunan logam berat : arsen, cadnium, merkuri dan timbal hitam.

 

Bagaimana tanda-tanda Autisme?

Mengenal tanda-tanda awal Autisme sangat penting. Meskipun secara umum gejalanya baru bisa terdeteksi setelah usia 2 tahun, bukan berarti tanda-tandanya tidak bisa terlihat lebih dini. Orang tua harus jeli mengamati setiap tahap perkembangan anaknya. Secara umum ciri-ciri utama gangguan Autisme ini dapat dibedakan menjadi 3, yaitu :

1.Gangguan dalam kemampuan interaksi sosial dan emosional

  • Tidak respons bila diajak bicara/ panggil, walau tidak ada gangguan  pendengaran.
  • Kontak mata yang terbatas, ekspresi wajah datar.
  • Menyendiri/ tidak tertarik bermain dengan anak-anak lain.
  • Tidak dapat berbagi minat dengan orang lain.
  • Tidak tertarik pada mainan tapi bermain dengan benda yang bukan mainan.
  • Kurang mampu melakukan interaksi sosial timbal balik.

2. Gangguan dalam kemampuan komunikasi

  • Terlambat atau tidak mampu bicara, tanpa kompensasi penggunaan bahasa tubuh (gesture). Misalnya saat menginginkan sesuatu, kalau bayi lain sudah bisa menunjuk, anak ini tidak bisa melakukannya.
  • Diajak bicara sering tak nyambung
  • Echolalia (membeo)
  • Susunan kalimat sering kacau
  • Keterlambatan bicara ini baru akan terlihat jelas setelah berusia 2 tahun. Meskipun demikian bayi-bayi autis ini tidak menunjukkan respons saat diajak ‘ngobrol’.

3. Minat yang terbatas dan perilaku tak wajar dan gerak stereotipik.

  • Minat yang terbatas dan abnormal dalam intensitas dan fokus.
  • Terikat secara kaku pada ritual yang spesifik tapi tidak fungsional. Contohnya, anak terlihat ‘bengong’ berjam-jam melihat suatu jenis benda atau terpaku melihat benda berputar.
  • Memberi perhatian kelewat besar pada bagian benda.
  • Takut pada benda/ bunyi atau suasana tertentu.
  • Mengamuk tanpa alasan yang jelas
  • Membariskan/ menumpuk benda.
  • Jinjit-jinjit saat berjalan.
  • Gerakan yang stereotipik dan berulang, seperti mengepakkan tangan, gerakan jari-jari, mengayunkan badan.

 

Kapan kita harus waspada ?

Hampir semua orang tua selalu memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan anak mereka dari hari ke hari. Pada kenyataan sehari-hari tak jarang meskipun sudah terlihat ada ‘sesuatu yang berbeda’, orang tua tetap berusaha menentramkan hatinya dengan mengatakan, “Ah, tidak apa-apa. Bukankah setiap bayi perkembangannya berbeda-beda?”. Atau, “Paling-paling sebentar lagi dia juga bisa ngomong. Biasalah kalau anak laki-laki ’kan memang agak terlambat bicara”.

Sikap seperti itu kurang bijaksana, penyesalan akan muncul belakangan. Jadi jangan tunggu sampai ‘perbedaan itu’ benar-benar terlihat nyata.

Para ahli menganjurkan perlunya mengamati perubahan emosi dan raut muka bayi sejak ia dilahirkan. Bayi yang tidak responsif terhadap rangsangan emosional dari ibu/ orang tua, perlu diawasi perkembangan selanjutnya.

Bila gejala-gejala seperti diuraikan diatas mulai nampak, segera bawa si kecil ke dokter anak untuk memastikan atau memberikan rujukan kepada dokter lain yang mendalami special needs.

Deteksi dini terhadap gejala Autisme merupakan hal yang amat penting karena untuk dapat melakukan intervensi dini. Intervensi dini dapat membantu anak mengatasi keterlambatan perkembangan fungsional dan diharapkan dapat memberikan hasil yang paling optimal bagi tiap anak Autisme. Mengetahui etiologi memang sangat penting untuk melakukan pencegahan primer dan sekunder, tetapi pengenalan awal akan sangat membantu mengatasi keberlanjutan penyakit ini.

Bagaimana pengobatan Autisme ?

Gangguan Spektrum Autistik merupakan suatu gangguan perkembangan yang mempengaruhi hampir semua aspek perkembangan seorang anak. Kondisi biologik, psikologik dan perilaku seorang anak autis merupakan satu kondisi yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Kita tidak dapat melihat hanya dari satu kondisi saja. Derajat keparahan pada Autisme juga sangat bervariatif, mengingat penyebab/ pencetus yang multifaktorial. Kondisi ini tentunya membutuhkan kerja sama antar disiplin ilmu terkait, seperti bidang medis (pediater, psikiater dan neurolog) dan non medis (psikolog, edukator, terapis wicara, terapis okupasi, fisioterapi, pekerja sosial).

Disamping berbagai kondisi dari dalam diri individu tersebut, juga perlu dipertimbangkan faktor lingkungan yang diduga mempunyai pengaruh timbulnya gangguan ini. Alergi terhadap makanan, polusi lingkungan dapat memperburuk kondisi anak autis. Faktor keluarga dimana anak ini tumbuh dan kembang, mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam proses majemen multidisiplin ini. Dibutuhkan keluarga yang penuh kasih sayang dan dapat menerima anak ini seutuhnya serta dapat bekerja sama dengan para terapis.

 

Tujuan pengobatan pada penderita Autis adalah :

  • Mengurangi masalah perilaku.
  • Meningkatkan kemampuan belajar dan perkembangannya, terutama dalam penguasaan bahasa.

Pengobatan penderita Autis dapat dibagi 2, yaitu :

Non Medikamentosa

    • Terapi Edukasi yaitu intervensi dalam bentuk pelatihan keterampilan sosial, keterampilan sehari-hari agar anak jadi mandiri (self-care).
    • Terapi Perilaku yaitu intervensi dalam bentuk mengendalikan perilaku anak seperti hiperaktif, impulsif, gerakan stereotipi, tempertantrum dan perilaku yang cenderung menyakiti diri sendiri.
    • Terapi Wicara yaitu  intervensi dalam hal berkomunikasi baik secara verbal maupun non verbal.
    • Terapi Okupasi/ Fisik yaitu intervensi dalam bentuk pelatihan keterampilan motorik baik kasar maupun halus.
    • Sensori Integrasi yaitu bertujuan mengintergrasikan sensorik yang ada sehingga semua gangguan akan dapat diatasi.
    • Auditory Integration Training yaitu memberikan desensitasi terhadap suara-suara yang menggangu/ menyakitkan pendengaran penderita autis, yang untuk orang normal tidak menjadi masalah. Contohnya suara alat pengering rambut, mesin cuci, mixer atau penyedot debu.
    • Intervensi Keluarga. Pada dasarnya sangat diperlukan bantuan keluarga baik perlindungan, pengasuhan, pendidikan maupun dorongan untuk dapat tercapainya perkembangan yang optimal dari seorang penderita autis sehingga ia dapat mandiri dan bersosialisasi dengan lingkungannya. Untuk itu diperlukan keluarga yang dapat saling berinteraksi positif satu sama lain anatar anggota keluarga dan saling mendukung.

    Medikamentosa

    Pemberian obat-obatan pada penderita autis tidak mengubah riwayat keadaan atau perjalanan gangguan autisme, tetapi dapat efektif mengendalikan/ mengurangi perilaku autistik seperti hiperakivitas, penarikan diri, stereotipi, agresif atau gangguan tidur.

     

    Apakah Autisme dapat disembuhkan ?

    Penderita Autisme tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikendalikan sehingga anak dapat tumbuh dan kembang optimal sesuai dengan kondisinya.

     

    Bagaimana pola asuh untuk menunjang tumbuh kembang optimal anak Autisme ?

    Orang tua yang dihadapkan pada tugas membesarkan anak dengan gengguan perkembangan seperti Autisme ini dituntut untuk memiliki kesabaran dan kesiapan lahir dan batin. Keluarga sebagai tempat anak dibesarkan merupakan wadah dan dinamika yang terjadi didalam keluarga sangat mempengaruhi keberhasilan terapi yang diberikan dalam upaya mencapai keberhasilan optimal. Oleh karena itu kesamaan persepsi, kondisi saling memotivasi diantara pasangan orang tua akan sangat menentukan tingkat optimalnya penanganan anak. Namun pada kenyataannya tidak semua keluarga memiliki dinamika ideal, ada beberapa permasalahan yang sering  terjadi yaitu :

    • Perbedaan penerapan pola asuh dan kedisplinan antara ayah dan ibu.
    • Ketidak mampuan mengendalikan masalah perilaku anak.
    • Ada reaksi menarik diri dari orang tua.
    • Adanya sibling (kecemburuan) dalam keluarga.
    • Rasa kehilangan pengharapan
    • Rasa marah
    • Keretakan dalam keluarga
    • Kondisi finansial keluarga
    • Kurangnya dukungan keluarga

     

    Persiapan orang tua dan keluarga dalam upaya menunjang pola asuh yang direncanakan adalah :

    1. Kenali anak secara menyeluruh. Hal ini merupakan tahap awal untuk memahami potensi positif dan kelemahan yang dimiliki anak.
    2. Memiliki keterbukaan dalam mempersiapkan pola dukungan bagi anak.
    3. Mempersiapkan program bersama dengan pihak terkait dengan pemahaman dalam melaksanakan program secara terpadu.

     

    Pola asuh yang penting dimiliki orang tua dalam menerapkan pola aturan adalah konsisten dan tegas. Pola ini hendaknya diterapkan secara setara antara setiap anak dalam keluarga. Hal ini untuk mencegah terjadi sibling (kecemburuan) diantara anggota keluarga. Bentuk perhatian dan kebersamaan anggota keluarga juga hendaknya setara sehingga anggota keluarga lain dapat menerima anak autis sebagai anak setara dan tidak berbeda. Ini dapat mempengaruhi hasil yang positif bagi anak.

     

    Apa saja yang diperlukan anak Autis untuk menunjang tumbuh kembang yang optimal ?

    Anak dalam tumbuh kembangnya memerlukan kebutuhan dasar meliputi kebutuhan akan asuh, asih dan asah. Demikian juga dengan anak Autisme.    Kebutuhan akan asuh adalah dipenuhi akan kebutuhan nutrisi yang seimbang yang sesuai dengan kebutuhan anak tersebut, perawatan kesehatan dan pencegahan terhadap penyakit –penyakit menular dan berbahaya. Kebutuhan akan asih adalah kebutuhan terhadap kasih dan sayang orang tua dan keluarga yang dapat melindungi dan memberikan rasa aman. Penerimaan yang ikhlas terhadap kondisi Autisme yang derita anak merupakan awal keberhasilan dalam terapi Autisme. Kebutuhan akan asah adalah proses stimulasi, pembelajaran dan pelatihan yang diberikan baik dirumah (informal) maupun di tempat khusus (formal). Apabila semua kebutuhan dasar tersebut dapat diberikan seutuhnya maka diharapkan anak dengan Autisme dapat tumbuh kembang dengan optimal sesuai dengan kemampuan yang ada.

    One thought on “Gangguan Spektrum Autistik

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s