MANAJEMEN PASIEN STUPOR DAN KOMA

Pendahuluan

Pasien dalam keadaan penurunan kesadaran sedang atau berat dapat dikategorikan sebagai stupor atau koma. Keadaan ini merupakan keadaan emergensi atau gawat darurat bila terjadi akut. Banyak variasi penyebab baik itu keadaan metabolik atau suatu proses intrakranial yang dapat mengakibatkan pasien dalam keadaan stupor atau koma ini. Adapun manajemen pada pasien seperti ini haruslah berfokus untuk menstabilkan keadaan pasien, menegakkan diagnosis, dan menatalaksana pasien berdasarkan penyebab dari penyakit tersebut.

Tinjauan pustaka ini bertujuan sebagai tambahan referensi untuk mahasiswa kedokteran, paramedis dan para dokter non neurologis yang bekerja di Rumah Sakit dalam menangani dan mentatalaksana pasien dengan kelainan neurologis yang datang di ruang gawat darurat, intensive care unit, bangsal, atau pun klinik. Continue reading

PARESE NERVUS OKULOMOTORIUS

PENDAHULUAN
Saraf otak (nervus cranialis) adalah saraf perifer yang berpangkal pada batang otak dan otak. Fungsinya sebagai sensorik, motorik dan khusus. Fungsi khusus adalah fungsi yang bersifat panca indera, seperti penghidu, penglihatan, pengecapan, pendengaran dan keseimbangan.

Saraf otak terdiri atas 12 pasang, saraf otak pertama langsung berhubungan dengan otak tanpa melalui batang otak, saraf otak kedua sampai keduabelas semuanya berasal dari batang otak. Saraf otak kedua dan ketiga berpangkal di mesensefalon, saraf otak keempat, lima, enam dan tujuh berinduk di pons, dan saraf otak kedelapan sampai keduabelas berasal dari medulla oblongata. (1) Continue reading

PENYAKIT VON RECKLINGHAUSEN

PENDAHULUAN
Fakomatosis adalah malformasi yang disebabkan oleh  kelainan  histogenesis. Proliferasi sel  abnormal  sering terjadi pada sistema saraf serta kulit (sindroma neurokutanosa). Proliferasi sel Schwann abnormal pada sistema saraf pusat pada neurofobromatosis, dan astrosit pada sklerosis tuberosa, akan membentuk lesi massa. Bila lesi massa menggantikan tempat jaringan saraf, bisa disebut hamartoma.
Neurofibromatosis, sklerosis tuberosa, dan angiomatosis serebeloretinal pertama dikelompokkan ke dalam fakomatosis  oleh van der Hoeve pada tahun 1932. Kelainan Sturge-Weber dan ataksia-telangiektasia  dimasukkan  ke daftar fakomatosis lebih kemudian. Kelainan tersebut bersifat genetik dan herediter. (1,2) 
Neurofibroma sering digolongkan kedalam istilah “Dumb-bell tumor” yaitu merupakan istilah yang sering digunakan untuk tumor yang sebagian terletak di dalam dan sebagian di luar canalis spinalis dan saling berhubungan melalui foramen intervertebralis. (3)  Continue reading

STROKE NON HEMORAGIC

I. Pendahuluan

Stroke adalah sindrom klinis yang awal timbulnya mendadak, progresif cepat, berupa defisit neurologik fokal dan/atau global, yang berlangsung 24 jam atau lebih atau langsung menimbulkan kematian dan semata-mata disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak non traumatik.

Bila gangguan peredaran darah otak ini berlangsung sementara, beberapa detik hingga beberapa jam (kebanyakan 10-20 menit), tapi kurang dari 24 jam, disebut sebagai serangan iskemik otak sepintas (Transient Ischemic Attack = TIA).

Stroke merupakan mekanisme gangguan vaskular susunan saraf penyakit-penyakit dengan lesi vaskuler dikenal sebagai penyakit serebrovaskular atau disingkat dengan CVID (“Cerebro Vascular Disease”), dan penyakit akibat lesi vaskular di medulla spinalis bisa disebut juga penyakit spinovaskular.

“Stroke” atau manifestasi CVD mempunyai etiologi dan patogenesis yang multi kompleks.Rumitnya mekanisme CVD disebabkan oleh adanya integritas tubuh yang sempurna.Otak tidak berdiri sendiri diluar jangkauan unsur-unsur kimia dan selular darah yang memperdarahi seluruh tubuh. Jika integritas itu diputuskan sehingga sebagian dari otak berdiri sendiri di luar lingkup kerja organ-organ tubuh sebagai suatu keseluruhan, maka dalam keadaan terisolisasi itulah timbul kekacauan dalam ekspresi (gerakan) dan persepsi (sensorik dan fungsi luhur),suatu keadaan yang kita jumpai pada penderita yang mengidap “Stroke”. Continue reading

SYNDROME HORNER’S

PENDAHULUAN
Segmen servikal 8 – torakal 2 mengatur vasokonstriksi, sekresi keringat dan piloareksi dari leher dan kepala di sisi homolateral.
Di daerah ini pula (kornu lateralis C8 – T2 terletak pusat silio-spinale (Budge) yang memberikan inervasi simpatik kepada beberapa otot mata polos. Serabut-serabut praganglioner dari C8 – T2 keluar bersama-sama dengan radiks anterior, kemudian mereka memisahkan diri sebagai rami komunikans alba. Dengan melalui ganglion servikale inferius, dan ganglion servikale medium akhirnya sampailah mereka di ganglion servikale superius di mana mereka bersinaps dengan neuron yang kedua. Serabut-serabut pasca ganglioner dari ganglion servikale superius membentuk suatu pleksus di sekitar dinding arteri karotis interna dan eksterna dan dengan demikian memberikan inervasi vaso motorik, sudomotorik, dan pilomotorik kepada kulit dari leer dan kepala di sisi homolateral.
Ganglion otikum terletak di fosa infratemporalis, di sebelah medial dari nervus mandibularis, sedikit di bawah foramen ovale.
Impuls kolinergik kepada glandula lakrimalis akan menimbulkan sekresi air mata. Terputusnya lintasan impuls ini akan menimbulkan keadaan dimana tidak ada lakrimasi. Impuls kolinergik ke kelenjar ludah menimbulkan hipersekresi ludah yang encer. Sebaliknya impuls adrenergik akan menimbulkan sekresi ludah yang kental.
Lesi pada pusat silio-spinale, pada ganglion servikale superius atau pada pleksus karotikus akan menimbulkan sindrom Horner’s. (1)
Orang pertama yang memperkenalkan syndroma ini adalah Johann Friedrich Horner, seorang ahli oftalmologi berkebangsaan Swiss (1831 – 1886). Dimana ia menemukan beberapa kelainan dari gejala klinis pada orang yang terinfeksi lues. Kelainan tersebut sangat khas, yaitu adanya ptosis, miosis, enoftalmus dan anhidosis. (2) Continue reading

SYNDROME WEBER

PENDAHULUAN
Kelumpuhan piramidalis akibat lesi di batang otak merupakan gejala bagian dari sindroma batang otak yang dapat diperinci dalam: (1) sindroma mesensefalon (sindrom Weber, sindrom Benedict, sindrom Caude), (2) sindrom pons (sindrom foville, sindrom Raymond-Cestan, sindrom Millard-Gubler) dan (3) sindrom medulla oblongata (sindrom Pra-Olivar, sindrom retro-Olivar, sindrom Lateralis/Wallenberg). Sindrom-sindrom tersebut terdiri dari manifestasi gangguan motorik dan sensibilitas, bahkan manifestasi gangguan sistema autonom juga bisa menjadi gejala tambahan.
Kelumpuhan piramidalis akibat kelumpuhan di batang otak, tidak perduli lokalisasinya, mempunyai satu ciri yang khas, yaitu: kelumpuhan UMN kontralateral yang disertai oleh kelumpuhan saraf otak motorik atau defisit sensorik akibat kerusakan pada saraf otak sensorik pada sisi dan tingkat lesi. Kelumpuhan tersebut berupa hemiparesis. Dan hemiparesis yang diiringi gangguan saraf otak tersebut dinamakan hemiparesis alternans. (1) Continue reading

TRAKTUS PIRAMIDALIS

PENDAHULUAN

ANATOMI

Traktus piramidalis, menurut Turek adalah traktus yang lewat di piramida medulla oblongata.

Bila kita berpegang teguh pada definisi tersebut, maka sununan ekstrapiramidal adalah semua susunan jaras-jaras dan nuclei yang terletak di luar susunan piramidal.

Filogenetik traktus piramidalis itu adalah suatu traktus yang baru. Bahkan Brouwer mengatakan bahwa traktus piramidalis itu adalah suatu tambahan filogenitik baru pada susunan saraf pusat. Traktus piramidalis hanya ditemukan pada mamalia.

Traktus piramidalis ini tidak didapatkan pada ikan, amfibia, reptilia atau pada burung. Hanya burung kakak tua memperlihatkan suatu traktus mulai di korteks serebri turun sampai di medulla spinalis. Ini diberi nama serabut-serabut kortiko-septo-mesensefalo-spinalis dari Kalisner. Ariens Kappers berpendapat bahwa serabut-serabut Kalisner ini adalah analogen avian dari traktus piramidalis pada mamalia.

Traktus piramidalis pada mamalia yang rendah tidaklah sama dengan traktus piramidalis mamalia yang filogenetiknya lebih tinggi tingkatnya. Pada rodentata misalnya kita lihat, bahwa traktus piramidalis sesudah dekusasio menjadi terletak di funukulus posterior.

Pada primata dan manusia, sebagian besar traktus piramidalis berada di funikulus lateralis. Hanya sebagian kecil traktus piramidalis itu berada di funikulus anterior.

Kita lihat, bahwa ada serabut-serabut yang telah menyilang di daerah pons dan kemudian ke jurusan kaudal bersama-sama dengan traktus spinalis nervi trigemini. Serabut-serabut ini, yang dinamai traktus dari Pick, kemudian di daerah servikal menjadi satu dengan traktus kortiko-spinalis lateralis.

Sewaktu-waktu terlihat bila berkas-berkas dari traktus piramidalis yang jalan bersama-sama dengan lemniskus medialis (“pedes lemnisci”). Pada dekusasio piramidorum sewaktu-waktu tampak traktus piramidalis yang menyilang secara menyeluruh, tetapi sebaliknya ada pula traktus piramidalis yang sama sekali tidak menyilang. Keganjilan-keganjilan ini akan dapat kita pahami, bila kita sadari, bahwa traktus piramidalis adalah suatu tambahan filogenetik baru, yang harus mencari jalannya sendiri diantara susunan-susunan ekstrapiramidal yang filogenetik adalah lebih tua.

Susunan filogenetik tua terdiri atas susunan-susunan neuron yang pendek, sedangkan susunan filogenetik muda terdiri atas neuron-neuron yang panjang, seperti kita lihat misalnya pada traktus kortiko-spinalis. Tetapi di dalam traktus piramidalis sendiri terdapat beberapa serabut yang bila dilakukan ablasi dari korteks serebri tidak memperlihatkan degenerasi sama sekali. Continue reading