Idiopathic Thombocytopenic Purpura (ITP)

PENDAHULUAN

Idiopathic Thrombocytopenic Purpura (ITP) merupakan suatu penyakit yang belum diketahui pasti penyebabnya. Penyakit ITP itu termasuk ke dalam Trombocytopenia Akuisita . Kelainan ini dahulu dianggap merupakan suatu golongan panyakit dan disebut dengan berbagai nama misalnya morbus makulosus werlhofi, syndrome hemogenic, purpura trombocytolitic(1,2)

Dikatakan Idiophatic untuk membedakan kelainan trombosit yang dapat diketahui penyebabnya dan biasanya disertai dengan kelainan hematologis lain seperti anemia, kelainan leukosit. Pada ITP biasanya tidak disertai anemia atau kelainan lainnya kecuali bila banyak darah yang hilang karena perdarahan. (2)

Perjalanan penyakit ITP dapat bersifat akut dan kemudian akan hilang sendiri (self limited) atau menahun dengan atau tanpa remisi dan kambuh. Pada penelitian

diketahui bahwa ITP merupakan suatu kelompok keadaan dengan gejala yang sama tetapi berbeda patogenesisnya. (2) Continue reading

Leukemia Limfositik Akut pada Anak

PENDAHULUAN

Leukemia limfositik akut (LLA) merupakan leukemia yang sering terjadi pada anak-anak. Insiden LLA berkisar 2-3/100.000 panduduk. Pada anak-anak, insidennya kira-kira 82%, sedangkan pada dewasa 18%. Dan lebih sering ditemukan pada anak laki-laki dibandingkan perempuan. Leukemia jenis ini merupakan 25% dari semua kanker yg mengenai anak-anak di bawah umur 15th. Insiden tertinggi pada anak usia antara 3-5th.(1,3,5) Continue reading

Thalasemia Pada Anak

I.          PENDAHULUAN

Talasemia merupakan penyakit anemia hemolitik herediter yang diturunkan dari kedua orangtua kepada anak-anaknya secara resesif menurut hukum mendel.

Talasemia pertama kali dijelaskan oleh cooley ( 1925 ) yang ditemukannya pada orang Amerika keturunan Italia. (1)

Gen Talasemia sangat luas tersebar dan kelainan ini diyakini merupakan penyakit genetik manusia yang paling prevalen. Distribusi utama meliputi daerah – daerah perbatasan laut medeterania, sebagian besar Afrika Timur Tengah, sub benua India dan Asia Tenggara. Dari 3 % sampai 8 % orang Amerika keturunan Italia  atau Yunani dan 0,5 dari kulit hitam Amerika membawa Gen untuk Talesemia. Dibeberapa daerah Asia Tenggara sebanyak 40 % dari populasi mempunyai satu atau lebih gen talasemia.(2) Continue reading

Tahapan pendidikan seorang dokter

Menjadi dokter merupakan cita-cita kebanyakan orang, dan juga harapan kebanyakan orang tua.

Kenapa? karena dalam fikiran mereka dokter merupakan profesi mulia dengan kemanan finansial serta strata sosial yang tinggi, maka tak heran banyak orang tua yang berlomba-lomba menyekolahkan anaknya di Fakultas Kedokteran, bahkan tak sedikit yang sampai menggadaikan rumah dan kebun nya agar si anak masuk ke FK meskipun sebenarnya si anak tidak menyukainya.

Oke, kali ini saya akan coba share proses kuliah untuk menjadi seorang dokter, saya kutip dari buku “Dokter juga manusia” karya dr. Iqbal Mochtar.

Pendidikan dokter merupakan pendidikan jangka panjang, di kenal istilah long life study, karena menjadi dokter dituntut belajar seumur hidup.

~Setelah menyelesaikan pendidikan SMU/SMA para pelajar diharuskan bersaing ketat untuk dapat ke dalam fakultas kedokteran (PMDK/SNMPTN/UM/dsb), kebanyakan universitas menetapkan standar kemampuan intelektual yg cemerlang serta kesehatan fisik dan mental yg baik.
~Setelah diterima di fakultas kedokteran, para mahasiswa akan menempuh pendidikan selama 4-5 tahun. Pada masa pendidikan ini dipenuhi jadwal kuliah dan laboratorium yang padat. Mahasiswa dituntut memiliki daya hafal yang tinggi karena hampir seluruh mata kuliah membutuhkan kemampuan menghapal, selain itu juga terdapat tugas-tugas. Tidak sedikit mahasiswa yang menyelesaikan masa pendidikan ini dalam waktu 6-8 tahun. Apabila mereka telah menyelesaikan tahap ini, maka akan memperoleh gelar Sarjana Kedokteran (S.Ked).
~Untuk menjadi dokter penuh, sarjana kedokteran masih perlu menjalani kegiatan kepanitraan klinik (coschaap) yang umumnya berkisar 2-4 tahun. Pada tahap ini mereka mulai berhadapan langsung dengan pasien di RS berupa kontak langsung, memberikan pengobatan dan tindakan pada pasien dengan persetujuan dokter senior atau dokter yang bertugas. Mereka akan berotasi dari bagian satu ke bagian lainnya dan akan menjalani ujian ketat agar dinyatakan lulus dan bisa melanjutkan ke bagian selanjutnya. Bila semua bagian telah dilalui barulah mereka mendapatkan gelar dokter umum. Tapi disini mereka belum boleh menangani pasien di praktek pribadi atau bekerja di RS.
~untuk mendapatkan surat izin praktek, maka para dokter umum ini wajib mengikuti Ujian Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI), ujian ini sangat sulit karena mencakup klinis dan materi seluruh perkuliahan. Tak sedikit yang harus mengikuti ujian berkali-kali agar lulus dan mendapatkan STR (surat tanda registrasi) untuk bahan pengajuan membuat SIP.

Bila dihitung-hitung, total waktu yang dibutuhkan untuk menjalani sekolah dokter umum bervariasi anatar 6-10 tahun. Bila si mahasiswa pandai dan rajin serta ada dukungan lingkungan yg kondusif maka ia bisa menyelesaikan tepat waktu 6 tahun, tapi bila sebaliknya maka waktu yang dibutuhkan bisa mencapai 10 tahunan.

~Setelah menjadi dokter umum, para dokter di berikan opsi untuk mengikuti PTT sebagai sarana untuk menerapkan ilmu dan keterampilan pada masyarakat. Dimana mereka akan ditempatkan di puskesmas, RS, DepKes, dll. Masa bakti ini bervariasi antara 6 bulan – 3 tahun tergatung jauhnya/kategori lokasi.
~Bagi dokter yang ingin melajutkan program spesialis, maka ia harus menjalai serangkaian tes masuk sesuai bidang yang diminati. Masa pendidikan bervariasi antara 4-7 tahun.
~Beberapa dokter setelah menyelesaikan spesialis, mereka melanjutkan ke jenjang superspesialis. Dan ini membutuhkan masa pendidikan selama 2-4 tahun. Dokter seperti ini nantinya akan mendapatkan gelar konsultan, seperti dr. Anto SpPD, KGH. SpPD (spesialis penyakit dalam) sedangkan KGH (Konsultan ginjal hipertensi), artinya dokter ini telah melewati dokter spesialis penyakit dalam dengan keahlian superspesialis dibidang penyakit ginjal dan hipertensi.

Jadi bila seorang anak menyelesaikan SMA saat usia 18 tahun dan langsung masuk Fakultas Kedokteran, maka ia dapat menjadi dokter di usia 25-29 tahun, menyelesaikan masa PTT pada usia 28-32 tahun, dan bila melanjutkan spesialis maka akan selesai di usia 32-39 tahun.
Setelah menjadi dokter spesialis dalam usia muda, ia belum tentu dapat berproduksi maksimal (menghasilkan materi). Dokter spesialis membutuhkan waktu 3-5 tahun untuk dikenal masyarakatdan memiliki banyak pasien. Sehingga baru pada usia 35-42 tahun lah seorang dokter spesialis dapat ‘menghasilkan’. Setelah menempuh jenjang pendidikan formal seperti diatas, maka dokter dituntut untuk mengikuti pendidikan non formal untuk mengasah keterampilannya seperti seminar medis, pertemuan ilmiah, dan CME.

Jadi bagi para orang tua yang menginginkan anaknya bersekolah di Fakultas Kedokteran, fikirkan semua faktor-faktor diatas dan samakan dengan antusias si anak. Karena akan sangat disayang bila ternyata si anak tidak berminat, akan sulit sekali baginya untuk survive selama masa pendidikan. Selain itu persiapkan diri untuk sabar menunggu kesuksesan si anak.

Ini hanya perhitungan berdasarkan waktu, untuk perhitungan berdasarkan masing-masing universitas menetapkan biaya pendidikan yang berbeda. Silahkan hubungi unversitas terkait untuk estimasi biaya yang dibutuhkan.

catet

طبيب الطب النبوي Dokter Pengobatan Nabawi

Download lengkap Buku Pedoman P2KB, ART IDI,  Registrasi Dokter WNA, Rincian Kegiatan P2KB, Juknis dan Buku Log Dokter umum dan Dokter Spesialis

User manual P2KB IDI di http://p2kb.idionline.org/manual/Manual%20Book%20P2KB%20IDI.pdf

Buku dan Modul

Buku Pedoman Pelaksanaan P2KB 2007 (Buku Ungu)

No Judul Keterangan Format Ukuran Aksi
1. Buku Pedoman Pelaksanaan P2KB 2007 Sebuah buku acuan untuk pembuatan Skema P2KB  untuk DSp maupun Dokter Pelayanan Primer. 753.71 KB
2. Kode Etik Kedokteran Indonesia Kode Etik Kedokteran Indonesia dan Pedoman Pelaksanaan Kode Etik Kedokteran Indonesia. 1.73 MB
3. Tabel 2 Halaman 13 Perhitungan batasan minimal dan maksimal bobot kredit Kegiatan Pendidikan CPD untuk Simposium dan Workshop (Jangka Pendek). 13.12 KB
4. Etika Medis Penyampaian Mengenai Etika Medis. 20.8 KB
5. Contoh Perhitungan Contoh Perhitungan Kegiatan P2KB. 28.6 KB
6. ART IDI Pasal 55 Anggaran Rumah Tangga IDI Pasal 55 Tentang Badan Pengembangan Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan (BP2KB). 14.8 KB
7. ART IDI Pasal 28 Anggaran Rumah…

View original post 1,107 more words